BNPB: Korban Meninggal Bencana Sumatra 1.200 Orang

Ilustrasi: Banjir bandang melanda sejumlah permukiman di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara. ANTARA/Stenly Gaghunting

BNPB: Korban Meninggal Bencana Sumatra 1.200 Orang

Lukman Diah Sari • 21 January 2026 08:21

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap perkembangan terkini penanganan darurat dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, hingga Senin, 20 Januari 2026. Dalam fase menuju pemulihan awal, tercatat ada penambahan satu korban meninggal di Kabupaten Aceh Tengah. 

"Dengan penambahan tersebut, total korban meninggal dunia secara keseluruhan mencapai 1.200 jiwa," ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dalam rilis resmi, dikutip pada Rabu, 21 Januari 2026.


Polisi menggunakan anjing pelacak mencari korban hilang akibat banjir bandang di Pulau Siau, Kabupaten Sitaro, Selasa, 6 Januari 2026. ANTARA/Stenly Gaghunting) 

Sementara itu, korban hilang tercatat sebanyak 143 jiwa. Adapun jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 113.903 jiwa.

"Data ini menunjukkan dinamika pergerakan pengungsi seiring dengan proses pembersihan wilayah, pemulihan kawasan permukiman, serta pembangunan hunian sementara yang terus berlangsung di wilayah terdampak," jelas Abdul.

Operasi Modifikasi Cuaca

Sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan darurat, pemulihan, serta mitigasi risiko bencana hidrometeorologi basah dalam jangka pendek. BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

"Hingga 20 Januari 2026, OMC di wilayah Aceh telah dilaksanakan sebanyak 507 sorti dengan total penggunaan bahan semai mencapai 484.600 kilogram," ujar Abdul. Selanjutnya, di wilayah Sumatra Utara, OMC tercatat sebanyak 390 sorti dengan total bahan semai 342.600 kilogram. Sementara di Sumatra Barat telah dilaksanakan 407 sorti dengan total bahan semai sebesar 404.325 kilogram.

"Operasi ini bertujuan untuk mengendalikan intensitas curah hujan serta mengurangi potensi terjadinya bencana susulan di wilayah rawan," jelas Abdul.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)