Pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado. (EPA-EFE)
Trump Sebut Machado Kurang Didukung Warga untuk Pimpin Venezuela
Willy Haryono • 4 January 2026 14:49
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado tidak memiliki “rasa hormat” yang cukup dari dalam negeri untuk memimpin Venezuela, menyusul lengsernya Presiden Nicolas Maduro.
Amerika Serikat memimpin serangkaian serangan di Venezuela pada Sabtu dini hari yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya kemudian dibawa ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan terkait narkoterorisme.
Machado, tokoh oposisi yang juga peraih Nobel Perdamaian, menyambut operasi tersebut dengan menyebutnya sebagai “jam kebebasan." Dalam pernyataannya, ia mengatakan bahwa Maduro kini menghadapi keadilan internasional atas kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Venezuela dan warga negara lain.
“Mulai hari ini, Nicolás Maduro menghadapi keadilan internasional atas kejahatan keji yang dilakukan terhadap rakyat Venezuela. Setelah ia menolak solusi yang dinegosiasikan, Pemerintah Amerika Serikat menepati janjinya untuk menegakkan supremasi hukum,” kata Machado.
Namun Trump menyatakan bahwa ia tidak percaya Machado dapat mengambil alih kepemimpinan Venezuela. Ia mengaku belum pernah berkomunikasi langsung dengan Machado.
“Akan sangat sulit baginya untuk menjadi pemimpin. Ia tidak memiliki dukungan dan rasa hormat di dalam negeri. Dia perempuan yang sangat baik, tetapi tidak memiliki respek,” ujar Trump dalam konferensi pers, dilansir dari ABC, Minggu, 4 Januari 2026.
Trump juga mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan “menjalankan negara tersebut” sementara waktu selama masa transisi menuju pemerintahan baru. “Kami akan mengelola negara ini sampai terjadi transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Kami menginginkan perdamaian, kebebasan, dan keadilan bagi rakyat besar Venezuela,” katanya.
Reaksi dan Perdebatan soal Kepemimpinan Oposisi
Analis politik Liz Alarcón, pakar Amerika Latin dan komunitas Latino AS, menolak pandangan Trump bahwa Machado tidak memiliki legitimasi. Dalam wawancara dengan ABC News Live, Alarcón mengatakan peluang Machado untuk memimpin “sudah ada saat ini."“Apa yang kami inginkan adalah dukungan penuh komunitas internasional, termasuk Amerika Serikat, untuk menyingkirkan pemimpin tidak sah seperti Nicolás Maduro. Namun, kami juga ingin kehendak rakyat Venezuela, baik di dalam maupun luar negeri, dihormati,” ujarnya.
Alarcón menambahkan bahwa kehendak tersebut mencakup kepemimpinan oleh tokoh-tokoh oposisi seperti Machado atau Edmundo González Urrutia, yang menjadi penantang Maduro dalam pemilu Juli lalu. Dalam pernyataannya, Machado juga menyerukan militer Venezuela untuk mengakui González Urrutia sebagai presiden yang sah.
Jajak pendapat keluar (exit poll) independen menunjukkan González Urrutia meraih sekitar dua pertiga suara. Amerika Serikat menyebut terdapat “bukti yang sangat kuat” atas kemenangannya, namun Maduro mengklaim kemenangan dan menolak menyerahkan kekuasaan.
Koresponden Urusan Global ABC News Martha Raddatz mengatakan masih belum jelas bagaimana militer Venezuela akan merespons penyingkiran Maduro, dan bahwa AS terus memantau situasi.
“Hari ini, kami siap menegakkan mandat kami dan mengambil alih kekuasaan. Mari tetap waspada, aktif, dan terorganisasi sampai transisi demokratis tercapai,” kata Machado.
Alarcón menambahkan bahwa banyak warga Venezuela merayakan kejatuhan Maduro, namun mereka ingin memastikan rezim tersebut tidak digantikan oleh figur serupa. Ia menekankan pentingnya tidak memasang kembali sekutu-sekutu Maduro atau tokoh yang tidak menghormati “kehendak demokratis rakyat Venezuela”.
Jurnalis Venezuela-Amerika José Enrique Arrioja, berbicara kepada ABC News, menyebut operasi ini sebagai “rangkaian peristiwa yang mengejutkan” dan “momen bersejarah” bagi Venezuela dan Amerika Latin. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan strategi baru yang lebih berani dari pemerintahan Trump di kawasan.
“Reaksinya sangat beragam. Situasi di Caracas saat ini relatif tenang—orang-orang berbelanja kebutuhan pokok untuk menghadapi pekan, bahkan bulan-bulan, yang tidak pasti,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa rezim Maduro telah lama tidak populer, terutama setelah tuduhan perebutan kekuasaan pascapemilu Juli, disertai peningkatan represi dan otoritarianisme.
Baca juga: Detik-Detik Penangkapan Maduro: Operasi AS dan Upaya Kabur Terakhir ke Ruang Baja