Donald Trump bersama basis pendukung MAGA hadir dalam acara kampanye di Butler. (Anadolu Agency)
Basis Trump Sambut Positif Penangkapan Maduro, Analis Ingatkan Risiko Politik
Muhammad Reyhansyah • 5 January 2026 10:25
Florida: Basis politik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara umum menyambut positif penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro, memandangnya sebagai kemenangan cepat dan relatif tanpa biaya besar.
Namun, para analis politik memperingatkan bahwa dukungan tersebut berpotensi memudar apabila operasi itu berkembang menjadi keterlibatan berkepanjangan yang mengingatkan pada intervensi luar negeri Amerika Serikat di masa lalu.
Meski ada segelintir tokoh konservatif yang mengecam serangan ke Venezuela dan penahanan Maduro sebagai pengkhianatan terhadap janji “America First” Trump yang menekankan penghindaran konflik luar negeri mayoritas sekutu Partai Republik presiden memilih untuk mendukung atau tidak menentangnya secara terbuka.
Dukungan awal itu muncul meskipun Trump menyatakan Amerika Serikat akan sementara waktu “mengelola” Venezuela dan berupaya memanfaatkan cadangan minyak negara tersebut. Pernyataan ini memunculkan kekhawatiran akan keterlibatan asing jangka panjang, sesuatu yang selama ini ditentang oleh basis MAGA.
Namun untuk saat ini, pendukung Trump tampak menilai kecil kemungkinan situasi tersebut berubah menjadi konflik berkepanjangan seperti perang di Afghanistan dan Irak.
“Masih terlalu dini untuk melihat adanya penolakan signifikan dari basis MAGA,” ujar Joshua Wilson, profesor ilmu politik di University of Denver.
Ia menambahkan, “Masih banyak pertanyaan mengenai bagaimana situasi ini akan berkembang, dan ini bisa menjadi ujian lain bagi kemampuan Trump membingkai peristiwa dan mengendalikan basis pendukungnya.”
Risiko Politik Jelang Pemilu
Dilansir dari AsiaOne, aksi militer tersebut terjadi di tengah penurunan tingkat persetujuan publik terhadap Trump. Jajak pendapat Reuters/Ipsos bulan lalu menunjukkan hanya 39 persen warga dewasa Amerika Serikat yang menyetujui kinerjanya, terutama karena kekecewaan terhadap penanganan ekonomi.Menurut Matthew Wilson, profesor ilmu politik di Southern Methodist University, keuntungan politik dari aksi militer biasanya bersifat singkat. Artinya, risiko politik bagi Trump dan Partai Republik justru lebih besar menjelang pemilu sela November, ketika kendali atas Kongres dipertaruhkan.
“Jika berjalan baik, kemungkinan besar akan dilupakan saat pemilu sela,” kata Wilson.
“Namun jika berjalan buruk, ini akan menjadi beban besar,” tambahnya.
Secara historis, tindakan terakhir Amerika Serikat untuk menggulingkan pemimpin negara Amerika Latin terjadi pada invasi Panama tahun 1989 yang menumbangkan Manuel Noriega. Meski operasi tersebut relatif cepat dan sukses, Presiden George H.W. Bush tetap kalah dalam pemilihan ulang pada 1992, terutama akibat kondisi ekonomi domestik.
Kecaman Lintas Spektrum Politik
Partai Demokrat secara luas mengecam langkah pemerintahan Trump di Venezuela, menilainya tidak bijaksana dan berpotensi melanggar hukum karena dilakukan tanpa persetujuan Kongres. Pemimpin mayoritas Senat, Chuck Schumer, memperingatkan bahwa Trump berisiko menyeret Amerika Serikat “ke dalam perang luar negeri lain yang mahal.”Kritik juga datang dari anggota Partai Republik Marjorie Taylor Greene, yang sebelumnya merupakan pendukung setia Trump.
Dalam wawancara dengan NBC Meet the Press, ia menyebut penangkapan Maduro sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye Trump pada 2024 untuk menjauhi konflik asing. “Ini adalah pola lama Washington yang sudah membuat kita muak dan tidak melayani rakyat Amerika,” ujarnya.
Podcaster sayap kanan Candace Owens turut mengecam, menulis di platform X bahwa CIA telah melakukan “pengambilalihan bermusuhan lainnya terhadap sebuah negara atas perintah psikopat globalis.”
Soliditas Basis Politik Trump
Namun secara umum, sebagian besar pendukung Trump dan bahkan beberapa pengkritiknya memberikan dukungan atau memilih diam. Steve Bannon, mantan penasihat Trump dan tokoh penting MAGA, memuji operasi tersebut sebagai langkah “berani dan brilian” dalam podcast-nya, mencerminkan nada agresif yang dominan di basis pendukung presiden.Pejabat pemerintahan Trump berupaya menggambarkan operasi itu sebagai tindakan penegakan hukum terhadap Maduro, yang telah didakwa atas kasus narkotika dan dijadwalkan menghadapi sidang pengadilan di New York. Sejumlah influencer MAGA juga menyatakan dukungan terhadap tujuan Trump untuk menegaskan dominasi Amerika Serikat di Belahan Barat.
Aktivis sayap kanan Laura Loomer menulis di media sosial bahwa Amerika Serikat harus memanfaatkan cadangan minyak Venezuela daripada membiarkannya dinikmati oleh pihak-pihak seperti Iran, Tiongkok, Rusia, dan Kuba.
“Kami akan menggunakan kekuatan kami dan mengambil minyak itu untuk melemahkan secara finansial poros kejahatan,” tulisnya di X.
Tokoh Republik lainnya, Nikki Haley, menyebut Maduro sebagai “diktator sosialis yang brutal” dan mengatakan rakyat Venezuela “pantas mendapatkan kebebasan.”
Senator Rand Paul, yang dikenal menentang intervensi militer luar negeri, tidak secara langsung mengkritik langkah Trump, namun mengingatkan bahwa “waktu yang akan menentukan apakah perubahan rezim di Venezuela berhasil tanpa biaya manusia dan finansial yang besar.”
Menurut Matt McManus, profesor ilmu politik di Spelman College, keliru jika menggambarkan gerakan MAGA sebagai sepenuhnya isolasionis. Ia menilai gerakan tersebut sejak lama tidak keberatan dengan proyeksi kekuatan, terutama ketika dipimpin langsung oleh Trump.
Namun para pakar sepakat, jika keterlibatan Amerika Serikat di Venezuela berkepanjangan terutama bila melibatkan pengerahan pasukan hal itu akan menjadi ujian serius bagi kendali Trump atas partainya dan basis MAGA.
“Venezuela akan menjadi ujian utama untuk menjawab apakah MAGA pada akhirnya adalah apa pun yang dikatakan Donald Trump,” ujar Dante Scala, profesor ilmu politik di University of New Hampshire.
Baca juga: Serangan AS ke Venezuela Tewaskan Sebagian Besar Tim Keamanan Maduro