Senior Vice President Impact Beyond Banking DBS Foundation, Nazla Mariza. Foto: Metrotvnews.com/Andika Fauzan Azhari
60% Pekerja Informal Berisiko Alami Krisis Finansial, Begini Antisipasinya
Andika Fauzan Azhari • 17 September 2026 14:18
Jakarta: DBS Foundation mengingatkan tingginya porsi pekerja informal di Indonesia menyimpan kerentanan besar terhadap ketahanan finansial di masa tua. Karakteristik pendapatan yang tidak stabil serta minimnya akses ke jaminan sosial membuat mayoritas pekerja di sektor ini berisiko menghadapi krisis ekonomi saat tidak lagi berada di usia produktif.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperberat beban ekonomi jangka panjang, baik bagi keluarga maupun beban bantuan sosial negara. Tanpa adanya akumulasi aset atau perencanaan pensiun sejak dini, dominasi sektor informal justru berpotensi memperpanjang mata rantai ketergantungan finansial antargenerasi.
"Hampir 83 persen tidak punya jaminan hari tua atau tunjangan hari tua. Dan yang bukan penerima upah, artinya yang freelance, informal, atau wirausaha, ini sangat kecil sekali, cuma 0,55 persen. Artinya cakupan pensiun masih didominasi terintegrasi dengan sektor formal," ujar Senior Vice President Impact Beyond Banking DBS Foundation, Nazla Mariza dalam Peluncuran Hasil Riset DBS Foundation di Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
Nazla menjelaskan, hambatan utama pekerja informal dalam menyisihkan dana pensiun adalah kapasitas keuangan rumah tangga yang terbatas. Sebagian besar pendapatan harian atau bulanan masih terserap habis untuk kebutuhan konsumsi pokok.

(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)
Dorong skema pensiun fleksibel dan literasi berkelanjutan
Guna memutus potensi krisis finansial lansia di masa depan, fleksibilitas skema perlindungan hari tua menjadi krusial untuk segera dibenahi. Penyelenggara jaminan sosial maupun lembaga keuangan didorong untuk menghadirkan produk tabungan pensiun yang lebih terjangkau dan adaptif bagi pekerja berpenghasilan tidak tetap.Di samping itu, peningkatan literasi keuangan harus berjalan sejajar dengan perluasan inklusi. Pemahaman mendalam mengenai pentingnya investasi dan pengelolaan aset jangka panjang diharapkan mampu merubah pola konsumsi masyarakat produktif agar lebih bersiap menghadapi masa pensiun.
"Bagaimana kita bisa membuat skema dana pensiun ini lebih fleksibel dan terjangkau, jadi tidak hanya yang terkait formal," tambah Nazla.
Dengan adanya kemudahan akses perlindungan sosial serta dorongan kemandirian finansial sejak usia produktif, tingkat ketergantungan lansia di masa mendatang diharapkan dapat ditekan secara signifikan.