Pangeran Andrew dari Kerajaan Inggris. (Anadolu Agency)
PM Inggris Minta Pangeran Andrew Bersaksi soal Jeffrey Epstein di Kongres AS
Willy Haryono • 1 February 2026 10:04
London: Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa Andrew Mountbatten-Windsor, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Andrew, seharusnya siap memberikan kesaksian di Kongres Amerika Serikat terkait hubungan masa lalunya dengan terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein, menurut laporan media.
Starmer mengatakan kepada wartawan pada Sabtu, saat dalam perjalanan kembali dari Jepang, bahwa siapa pun yang memiliki informasi relevan harus siap membagikannya “dalam bentuk apa pun yang diminta.”
“Tidak mungkin kita mengklaim berpihak pada korban jika tidak bersedia melakukan itu,” ujar Starmer.
“Korban-korban Epstein harus menjadi prioritas," sambungnya, dikutip dari TRT World, Minggu, 1 Februari 2026.
Ketika ditanya apakah Pangeran Andrew sebaiknya menyampaikan permintaan maaf, Starmer mengatakan hal tersebut merupakan “keputusan Andrew sendiri.”
Perdana menteri menambahkan bahwa ia telah menggunakan pernyataan dengan nada serupa sejak November lalu.
Pangeran Andrew, adik dari King Charles III, selama ini membantah melakukan pelanggaran apa pun terkait Epstein, yang meninggal dunia di penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks.
Sejumlah dokumen Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang baru dibuka ke publik kembali memicu sorotan. Di antaranya terdapat foto-foto yang dilaporkan media Inggris, yang disebut menunjukkan Andrew berada dalam jarak fisik sangat dekat dengan seorang perempuan yang identitasnya tidak diketahui.
Dokumen lain menunjukkan bahwa Epstein diduga masih menjalin komunikasi dengan Andrew setelah vonis tahun 2008, termasuk rujukan pada kemungkinan pertemuan pribadi di London pada 2010. Namun, hingga kini belum ada kejelasan apakah pertemuan tersebut benar-benar terjadi.
Pada 2022, Pangeran Andrew dicabut dari seluruh gelar militernya, kehilangan perlindungan kerajaan, serta menarik diri dari tugas-tugas publik di tengah meningkatnya kontroversi terkait hubungannya dengan Epstein.
Epstein sebelumnya mengaku bersalah di pengadilan negara bagian Florida dan divonis pada 2008 atas kasus memfasilitasi prostitusi anak di bawah umur. Namun, vonis tersebut kerap dikritik sebagai “hukuman istimewa” yang terlalu ringan.
Para korban menuding Epstein mengoperasikan jaringan perdagangan seks berskala luas yang melibatkan kalangan elit kaya dan berpengaruh.
Hingga kini, kasus Epstein tetap menjadi isu politik sensitif di Amerika Serikat, dengan tuntutan luas dari legislator dan pembela korban agar ada transparansi penuh mengenai jaringan asosiasinya serta pihak-pihak yang diduga membantu kejahatan tersebut.
Baca juga: Pangeran Andrew Lepas Gelar Bangsawan di Tengah Skandal Epstein