Gerhana Matahari Total Pertama di Eropa dalam Beberapa Dekade Ubah Siang Jadi Malam

Gerhana matahari total yang bisa dilihat secara penuh di Eropa. Foto: The New York Times

Gerhana Matahari Total Pertama di Eropa dalam Beberapa Dekade Ubah Siang Jadi Malam

Fajar Nugraha • 13 August 2026 04:53

Castrilo de la Reina: Gerhana matahari total pertama di Eropa dalam beberapa dekade melintasi benua tersebut pada Rabu 12 Agustus 2026.

Gerhana mengubah siang menjadi gelap di sejumlah negara saat kerumunan orang menyaksikannya dari puncak bukit, pesisir pantai, dan ruang terbuka lainnya.

Peristiwa langka di mana Bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus sempurna -,sebuah fenomena angkasa sesaat yang dikenal sebagai fase totalitas,- menciptakan antusiasme luar biasa di seluruh wilayah tersebut.

Orang-orang rela membayar tarif hotel yang sangat mahal demi berada di wilayah inti bayangan bulan, atau umbra. Di sepanjang jalur tersebut, di mana langit cerah, matahari tampak seperti piringan hitam yang dikelilingi oleh korona samar serta bintang-bintang dan planet-planet di sekitarnya.


Warga di Spanyol melihat gerhana matahari total. Foto: The New York Times

Di Spanyol, kota-kota yang biasanya sepi mendadak ramai dipadati pengunjung. Ada pula orang-orang yang melakukan perjalanan jauh ke destinasi-destinasi di Atlantik Utara. Namun, seberapa jelas pemandangan yang didapat sangat bergantung pada keberuntungan terkait kondisi awan.

Gerhana tersebut juga melintasi Islandia saat burung-burung bersahutan seolah-olah hari sudah senja, sementara udara mendingin dan kegelapan turun serta Spanyol, di mana kerumunan orang yang berkumpul di Castrillo de la Reina, wilayah utara, bersorak "Sekarang, sekarang, sekarang!" saat gerhana mulai menutupi sebagian kecil matahari. Di London, warga berkumpul di jalan-jalan dan taman untuk menyaksikan gerhana sebagian.

"Bagus sekali, bulan," seru seorang pengamat di Primrose Hill, London, seperti dikutip dari The New York Times, Kamis 13 Agustus 2026.

Gerhana telah memikat imajinasi manusia sejak zaman dahulu kala saat orang-orang mulai berkisah. Dalam karya Homer, Odyssey, kematian para pelamar Penelope diramalkan melalui sebuah pertanda yang kemungkinan besar merupakan gerhana matahari: "Matahari telah lenyap dari langit, dan kegelapan yang membawa sial menyelimuti dunia."

Momen totalitas yang unik itulah yang menjadi peristiwa utama pada Rabu tersebut. Cahaya langit meredup drastis dan udara pun kehilangan kehangatannya. Bulan tampak memotong piringan matahari dan kemudian, selama sekitar satu jam, bergerak melintasi permukaannya hingga fase totalitas yang singkat -,yang berlangsung paling lama hanya sedikit lebih dari dua menit,- berakhir.

Tidak semua orang cukup beruntung untuk menyaksikannya, atau melihatnya dengan jelas. Di sebuah festival gerhana di Hellissandur, Islandia, cuaca mendung tebal dan hujan mendominasi suasana. Namun, tepat setelah pukul 17.45 waktu setempat, awan tersingkap cukup lebar sehingga memungkinkan orang-orang melihat matahari menyusut hingga tinggal segaris tipis.


Warga di Islandia menyaksikan gerhana matahari. Foto: The New York Times

"Rasanya seperti kemurahan hati dari langit yang mau terbuka bagi kami," ujar Bjorgvin Hallgrimsson, 60 tahun, seorang kontraktor yang tinggal di Reykjavik.

Di Sant Antoni, di sisi utara pulau Ibiza, Spanyol, awan menutupi matahari saat gerhana sedang berlangsung.

"Ini penipuan," kata Chelo Ortega, salah satu dari banyak orang yang menyaksikan peristiwa itu dari kawasan pejalan kaki tepi laut.

"Mungkin mereka akan mengulanginya besok," seloroh suaminya, Julián Gómez.

Beberapa penonton yang tidak sabar mulai beranjak pergi ketika tiba-tiba matahari muncul kembali.

Cahaya meredup, dan orang-orang mulai bersorak. Suasana di atas laut sempat berubah menjadi gelap layaknya malam hari, dan korona matahari yang membara pun terlihat jelas. Ribuan layar ponsel diacungkan ke arah pemandangan itu diiringi tepuk tangan meriah.

(Fajar Nugraha)