Presiden Prabowo Subianto (kiri) menggandeng tangan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri dan berbincang usai upacara peringatan Hari Lahir Pancasila di Jakarta. Foto: ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.
Said Abdullah Ungkap 3 Fondasi Hubungan Megawati-Prabowo Tetap Harmonis
Whisnu Mardiansyah • 2 June 2026 13:26
Jakarta: Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, menyebut hubungan antara Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Prabowo Subianto bertahan kokoh karena tiga fondasi utama. Keduanya tidak hanya sebatas sahabat yang sering tampak akrab di depan umum.
"Persahabatan kedua beliau ini tulus, tak ada cela. Bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang seringkali dilihat publik," ujar Said Abdullah dalam keteragan tertulisnya, Selasa, 2 Juni 2026.
Said melihat hubungan Megawati dan Presiden Prabowo bisa dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, aspek pertemanan lama. Persahabatan dua tokoh ini sudah terjalin puluhan tahun.
Megawati dan Presiden Prabowo pernah sama-sama berjuang dalam kontestasi Pemilihan Presiden tahun 2009. Kala itu, keduanya menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pertemanan dan silaturahmi itu terus berlanjut meski Pilpres 2009 telah usai.
Ia menambahkan, saat PDIP mencalonkan Joko Widodo pada Pilpres 2014 yang juga berhadapan dengan Prabowo, hubungan kedua tokoh tetap terjaga. Hal serupa terjadi pada periode berikutnya.
Aspek kedua, Said melanjutkan, selain hubungan persahabatan, Megawati saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional).
"Meski presiden telah berganti, Presiden Prabowo tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Ibu Mega, meskipun PDIP bukan bagian dari pemerintahan. Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan," jelasnya.
Ia meyakini, keduanya memiliki pandangan yang sama. Lembaga negara seperti BPIP semestinya dijabat oleh negarawan sekaligus tokoh yang gigih menanamkan nilai-nilai Pancasila.
"Urusan Pancasila ini melampaui segalanya. Jadi kemesraan pada acara peringatan Hari Pancasila itu manifestasi dari hal ini," tambah Said.

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah. Dok/Istimewa
Aspek ketiga, hubungan Megawati dan Presiden Prabowo berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. Perbedaan jalan politik di mana PDIP sebagai partai penyeimbang (oposisi) tidak dimaknai Presiden Prabowo sebagai musuh.
Said merujuk pada pidato Presiden Prabowo di DPR pada 20 Mei lalu. Dalam pidato tersebut, Prabowo menghormati dan mengapresiasi berbagai masukan yang disampaikan kader-kader PDIP di DPR.
"Bagi saya, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan," tegas Said.
Ia menegaskan, ketiga fondasi hubungan dan cara pandang itulah yang membuat hubungan Megawati dan Presiden Prabowo awet serta tidak ternoda meski berbeda haluan politik kepartaian.
Keteladanan ini, lanjut Said, juga diikuti oleh jajaran Fraksi PDIP dan Gerindra di DPR. Kedua fraksi bisa cair, saling berdiskusi, dan bertukar pandangan dalam membahas kebijakan serta program pemerintah.
"Meskipun dalam beberapa hal terjadi perbedaan pandangan, keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik yang tetap bisa bersinergi," kata Said.