Petugas saat menyiapkan hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jawa Barat. ANTARA/Rubby Jovan
SPPG di Sumba dan Tasikmalaya Menjaga Standar Tinggi dan Dorong Pertanian Lokal
Achmad Zulfikar Fazli • 19 March 2026 20:07
Jakarta: Sejumlah Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) sudah berjalan baik dan berhasil membangun ekosistem perekonomian saling menguntungkan dengan penduduk di sekitarnya. Sebagian SPPG bukan sekadar sarana dapur umum, namun bertransformasi menjadi jantung baru bagi perekonomian desa dan program makan bergizi gratis (MBG) menjadi penyemangat baru bagi anak-anak di pelosok negeri untuk terus bersekolah.
Kisah inspiratif pertama datang dari SPPG Kadi Wano di Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Di bawah kepemimpinan Edwin Putra Kadege, SPPG ini membuktikan SPPG yang dijalankan dengan baik justru menunya dinanti anak-anak.
"Banyak anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi orang tua. Fakta di lapangan, guru-guru melapor anak-anak kini jauh lebih bersemangat sekolah meskipun jarak rumah mereka sangat jauh," ujar Edwin dalam keterangannya, Kamis, 19 Maret 2026.
Hal ini sejalan dengan temuan Research Institute Of Socio-Economic Development (RISED) yang melakukan penelitian Dampak Awal Program MBG Terhadap Kesejahteraan Anak yang diluncurkan pada Februari 2026. Hasil survei RISED di tiga Kabupaten/Kota di Jawa Tengah menunjukkan anak-anak jadi lebih ceria setelah program MBG berjalan.
“Sekitar separuh dari 1.800 responden orang tua siswa yang mengikuti survei kami menyatakan setuju bahwa anak menjadi lebih jarang sakit dan terlihat lebih ceria. (Sebanyak) 50% orang tua siswa menganggap terlihat lebih ceria, 48% orang tua menilai anak mereka menjadi lebih jarang sakit setelah menerima MBG,” terang Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi.
SPPG Bersinergi dengan Petani Lokal
Selain memberikan makanan bernutrisi bagi 2000 anak-anak pada 15 sekolah di Sumba Barat, SPPG Kadi Wano membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari memberdayakan petani lokal. Hampir seluruh kebutuhan sayur-mayur SPPG ditopang langsung oleh kelompok tani setempat.
Hal ini menciptakan ekosistem perputaran ekonomi yang nyata. Petani lokal tidak lagi bingung menjual hasil panennya karena SPPG bertindak sebagai pembeli siaga (offtaker). Hal yang sama juga terjadi di SPPG Cibuntu di Kecamatan Taraju, Tasikmalaya, menunjukkan sinergi yang tak kalah apik. Dengan tingkat pemenuhan pangan lokal mencapai 85%, SPPG ini telah menggandeng petani, pedagang pasar, hingga karang taruna desa setempat untuk bersinergi membangun ekosistem yang tangguh.
Kehadiran SPPG ini juga memicu revolusi pertanian kecil-kecilan di Taraju. Mitra SPPG Cibuntu, Tino Rirantino, menyebutkan bahwa kehadiran program ini mendorong perubahan pola tanam petani. Jika sebelumnya buah-buahan harus didatangkan dari luar wilayah, kini para petani lokal mulai bersemangat menanam buah secara mandiri agar bisa diserap langsung oleh dapur SPPG.
"SPPG ini adalah jembatan strategis. Kami memfasilitasi petani agar hasil bumi mereka memiliki pasar yang jelas dan memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan warga desa," jelas Tino.
.jpg)
Ilustrasi MBG. Dok Metrotvnews.com
Baca Juga:
BGN: MBG Pacu Pergerakan Ekonomi Daerah Lewat Dana Triliunan ke SPPG |
Keberhasilan SPPG tidak hanya diukur dari angka ekonomi, tetapi juga dari senyum para penerima manfaat. Melalui evaluasi berkala, pengelola SPPG dituntut untuk tetap kreatif dan disiplin. Menjamin higienitas dapur dan kualitas bahan baku tetap pada standar tertinggi adalah kunci agar SPPG bisa beroperasi dengan baik. Tidak kalah penting lagi, SPPG harus kreatif dalam mengatur porsi nutrisi sesuai usia anak, namun tetap menyesuaikan dengan selera lokal agar makanan selalu habis disantap.
Melibatkan guru dalam proses distribusi untuk memastikan setiap anak merasa diperhatikan secara personal juga jadi strategi yang perlu dikelola SPPG dengan pihak sekolah. Salah satu hal yang patut dicontoh dari SPPG Cibuntu, Taraju, mereka juga menjalankan program CSR berupa penyaluran bantuan sarana dan prasarana sekolah bagi anak yatim dan yatim piatu di lingkungan sekolah. Ini menggambarkan manfaat MBG dan keberadaan SPPG di sebuah wilayah kini berubah menjadi denyut nadi sosial ekonomi yang penting bagi warga lokal di sekitarnya.