Resmi Jadi Presiden Peru, Fujimori Minta Militer Berantas Kejahatan Terorganisir

Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru dan langsung meluncurkan agenda pemberantasan kejahatan terorganisir. (Anadolu Agency)

Resmi Jadi Presiden Peru, Fujimori Minta Militer Berantas Kejahatan Terorganisir

Willy Haryono • 29 July 2026 11:10

Lima: Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru pada Selasa, 28 Juli 2026, menjadikannya perempuan pertama yang terpilih secara demokratis untuk memimpin negara Amerika Selatan tersebut.

Mengawali masa jabatan 2026–2031, Fujimori langsung meluncurkan agenda keamanan dengan memberikan peran lebih besar kepada Angkatan Bersenjata dalam menangani kejahatan terorganisir.

Dalam pidato pelantikannya di hadapan Kongres di Istana Legislatif Lima, Fujimori menyatakan perang terhadap organisasi kriminal, jaringan perdagangan narkoba, dan penambangan ilegal.

"Selama masa tanggap darurat, Angkatan Bersenjata akan mengambil alih pimpinan operasi keamanan dan pemeliharaan ketertiban umum secara sementara, dengan koordinasi erat bersama Kepolisian Nasional," kata Fujimori, seperti dikutip Anadolu, Rabu, 29 Juli 2026.

Ia menegaskan pemerintah akan memanfaatkan seluruh instrumen yang tersedia dalam konstitusi di wilayah-wilayah yang dikuasai kejahatan terorganisir, perdagangan narkoba, dan penambangan ilegal.

Selain mengerahkan militer, Fujimori berjanji memperkuat Kepolisian Nasional melalui peningkatan dukungan politik, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan peralatan, serta perluasan kewenangan institusi tersebut.

Di bidang ekonomi, Fujimori mengumumkan kenaikan upah minimum nasional sebesar 15 persen, dari 1.130 soles menjadi 1.300 soles per bulan, sebagai bagian dari upaya mengatasi meningkatnya biaya hidup dan perlambatan ekonomi.

Ia juga menegaskan komitmennya mempertahankan sistem ekonomi pasar bebas Peru sembari melanjutkan reformasi di sektor keamanan publik.

Aksi Protes Oposisi

Pelantikan Fujimori diwarnai aksi protes dari sejumlah anggota parlemen oposisi. Beberapa saat sebelum pidato dimulai, legislator dari koalisi oposisi, termasuk Juntos por el Peru dan Ahora Nación, melakukan aksi keluar dari ruang sidang (walkout).

Mengenakan pakaian serba hitam dan pita duka, para legislator membawa foto-foto korban tewas pada masa pemerintahan Presiden Alberto Fujimori, ayah Keiko Fujimori, yang pernah dipenjara atas kasus kejahatan terhadap kemanusiaan terkait masa pemerintahannya pada 1990–2000.

Keiko Fujimori memilih menunggu hingga para legislator tersebut meninggalkan ruangan sebelum memulai pidatonya.

Di tengah dinamika politik domestik, pelantikan tersebut dihadiri sejumlah pemimpin dunia, termasuk Raja Felipe VI dari Spanyol serta para pemimpin Amerika Latin seperti Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Argentina Javier Milei, Presiden Bolivia Rodrigo Paz, dan Presiden Cile José Antonio Kast.

Di sela kunjungannya, Milei mengadakan pertemuan bilateral dengan Fujimori untuk membahas penguatan kerja sama di bidang ekonomi, keamanan, sains, teknologi, dan inovasi.

Kunjungan itu menjadi lawatan luar negeri pertama Milei sejak memicu ketegangan diplomatik dengan Brasil setelah melontarkan kritik terhadap Presiden Luiz Inácio Lula da Silva dalam sebuah acara politik di São Paulo yang mendukung pencalonan Senator Flávio Bolsonaro.

Terpilihnya Keiko Fujimori dipandang mencerminkan menguatnya kecenderungan politik konservatif di Amerika Latin, seiring meningkatnya perhatian pemilih terhadap isu keamanan, kriminalitas, dan kondisi ekonomi. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Keiko Fujimori Terpilih sebagai Presiden Peru dengan Selisih Suara yang Sangat Tipis

(Willy Haryono)