Cegah Kecelakaan Kereta Berulang, Masyarakat Harus Ubah Perilaku

Ilustrasi Pexels

Cegah Kecelakaan Kereta Berulang, Masyarakat Harus Ubah Perilaku

Muhamad Marup • 30 April 2026 17:50

Jakarta: Usai kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin, 30 April 2026, rencana perbaikan untuk pencegahan kejadian berulang mulai dilakukan. Selain infrastruktur, perilaku masyarakat juga berperan penting dalam pencegahan.

Peneliti dan Staf Ahli dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (PUSTRAL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Puja Riyadi, mengatakan, penyebab utama dari kecelakaan ini adalah perilaku masyarakat yang tidak disiplin dalam menghadapi teknologi. Iwan mengingatkan agar masyarakat pengguna jalan untuk mematuhi rambu lalu lintas, bukan malah menuntut sistem untuk menyesuaikan dengan ketidakpatuhan.

"Kesadaran masyarakat masih rendah terhadap permasalahan ini yang ditandai dengan perilaku menerobos palang pintu," ujar Iwan, mengutip laman UGM, Kamis, 30 April 2026.

Ia menjelaskan, perilaku masyarakat di Indonesia hari ini belum sepenuhnya dapat beradaptasi dengan kecanggihan teknologi modern. Meskipun sistem teknologi sudah berupaya dalam bekerja melalui palang kereta, tetapi jika masyarakat tidak mampu untuk menaati sistem tersebut, kecelakaan tetap akan terjadi.

"Perilaku kita itu terhadap suatu sistem yang modern itu kan juga harus berubah," jelasnya.

Tinjau ulang pelintasan sebidang

Iwan menilai, sebagai upaya untuk mengatasi agar kedepannya tidak ada kecelakaan semacam ini, perlu adanya peniadaan perlintasan sebidang. Menurutnya, secara regulasi, perlintasan sebidang antara jalan raya dan jalur kereta api sebenarnya tidak diperbolehkan, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti volume lalu lintas rendah atau topografi yang sulit.

Oleh karenanya, sebaiknya dilakukan perbaikan perlintasan melalui pembangunan flyover atau underpass. Dengan demikian, tidak ada lagi perpotongan arus antara kendaraan bermotor dan kereta api.

“Secara konsep itu tidak boleh ada perlintasan sebidang, kecuali terdapat kondisi tertentu,” terangnya.

Penyebab multifaktor


Ilustrasi Pexels

Iwan mengungkapkan, insiden kecelakaan tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal saja. Peristiwa kecelakaan kereta tersebut merupakan hasil dari efek domino yang akar permasalahannya dimulai dari kejadian di perlintasan sebidang.

"Jadi mungkin terdapat beberapa faktor yang mungkin terjadi dan hal ini dipicu oleh faktor primer, yaitu mungkin karena ada taksi mati atau berhenti di perlintasan," katanya.

Meskipun kereta sudah menggunakan sistem modern (sistem blok), risiko kecelakaan tetap ada. Kereta tidak bisa dengan cepat memberhentikan lajunya secara mendadak, apalagi faktor kepadatan pada lalu lintas kereta di stasiun tersebut semakin memicu terjadinya peristiwa beruntun tersebut.

Ia menjelaskan bahwa terdapat keterlambatan informasi yang diperoleh kereta api Argo Bromo Anggrek, sehingga kereta sulit untuk berhenti langsung, meskipun sudah dilakukan pengereman.

"Jadi bisa juga dimungkinkan karena ada kejadian itu, kereta yang di belakangnya menerima informasinya sudah berdekatan dengan lokasi kejadian," tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)