Warga membuat tenda darurat di depan rumah untuk tidur malam. ANTARA/HO-Joni
Masih Trauma, Korban Gempa di Flores Timur Pilih Tidur di Tenda
Silvana Febiari • 13 April 2026 09:13
Kupang: Warga korban gempa di Adonara, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga kini masih memilih tidur di tenda. Pasalnya, mereka masih merasa waswas dengan gempa susulan yang terus terjadi.
“Warga masih trauma, sehingga beberapa warga memilih untuk tidur di luar rumah dengan tenda,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur Maria Goretty Nebo Tukan, dilansir dari Antara, Senin, 13 April 2026.
Hal ini disampaikan terkait perkembangan dampak gempa bumi bermagnitudo 4,7 yang terjadi pada pukul 00.30 WITA, Jumat, 9 April 2026. Gempa tersebut merusak ratusan rumah warga di dua desa, yakni Terong dan Lamahala Jaya, Kecamatan Adonara Timur.
Dia mengatakan total pengungsi di dua desa tersebut mencapai 1.383 jiwa hingga Minggu, 12 April 2026. Para pengungsi tersebar di beberapa titik.
Maria menambahkan, BPBD tidak mendirikan satu tenda khusus untuk para pengungsi di dua desa tersebut. Sebaliknya, tenda-tenda didirikan di beberapa lokasi yang dekat dengan rumah warga.
“Kita tidak mendirikan tenda di satu lokasi, tetapi tersebar di beberapa lokasi dekat dengan rumah warga. karena memang warga tidak kehilangan pekerjaan tidak seperti di erupsi Lewotobi,” ucapnya.
.jpg)
Warga melihat bangunan rumah yang rusak akibat gempa di Terong, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis, 9 April 2026. ANTARA FOTO/Mega Tokan/tom.
Selain itu, kata dia, sejumlah logistik atau bantuan juga sudah didistribusikan kepada para pengungsi di daerah itu, termasuk beras yang dibagikan kepada para korban gempa bumi.
Josep, warga di Desa Baniona, Kecamatan Wotan Ulumado, yang Desanya tidak jauh dari Lamahala dan Terong mengaku, sudah empat malam tidur di teras rumah.
“Kalau di desa kami memang tidak ada rumah yang rusak, tetapi saya dan beberapa warga sekitar memang sudah empat malam berturut-turut tidur di teras rumah, untuk berjaga-jaga saja, jangan sampai ada gempa susulan lagi yang lebih besar,” ujar dia.
Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi magnitudo 4,7 terjadi pada pukul 00.30 WITA, Kamis, 9 April 2026. Episenter gempa terletak pada koordinat 8,36 derajat Lintang Selatan (LS) dan 123,15 derajat Bujur Timur (BT), tepatnya di darat pada jarak 21 kilometer tenggara Larantuka dengan kedalaman lima kilometer.