Trump Klaim AS dan Iran Bisa Berbagi Kendali Atas Selat Hormuz

Selat Hormuz jadi jalur penting alur energi dunia. Foto: NASA

Trump Klaim AS dan Iran Bisa Berbagi Kendali Atas Selat Hormuz

Muhammad Reyhansyah • 24 March 2026 13:21

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin, 23  Maret 2026 menyatakan bahwa dirinya bersama pemimpin tertinggi Iran dapat “berbagi” kendali atas Selat Hormuz

Pernyataan tersebut muncul di tengah serangkaian komentar yang bernada meredakan ketegangan.

Trump mengatakan, jalur perairan strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi global itu bisa “dikendalikan bersama.” 

Ia menyampaikan hal tersebut kepada wartawan saat ditanya mengenai klaimnya bahwa pembicaraan sedang berlangsung untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

“Bisa saja oleh saya. Mungkin saya. Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah itu,” ujar Trump, dikutip dari MIddle East Eye, Selasa, 24 Maret 2026.

Meski demikian, Trump tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “kendali” tersebut. Setiap langkah AS yang mengakui pengaruh Iran atas Selat Hormuz dinilai sebagai konsesi besar bagi Republik Islam tersebut.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali jalur tersebut. Namun, ia kemudian menyatakan bahwa kedua pihak tengah terlibat dalam “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” untuk mengakhiri konflik.

Di sisi lain, Iran menyebut negara-negara di kawasan tengah berupaya menurunkan ketegangan antara kedua pihak, tetapi membantah adanya “dialog” langsung.

Dua diplomat kawasan mengatakan bahwa pengakuan apa pun dari Washington terhadap pengaruh Iran di Selat Hormuz akan disambut positif oleh Teheran.

Selain itu, pemerintahan Trump dilaporkan telah mencabut sanksi terhadap minyak Iran di laut. Langkah tersebut diklaim untuk meredakan tekanan harga energi, namun secara efektif memberikan keuntungan tambahan bagi Iran.

Kendali atas jalur strategis

Iran diketahui mengambil alih kendali Selat Hormuz setelah diserang oleh Israel dan Amerika Serikat. Posisi Amerika Serikat sebagai kekuatan global selama ini bertumpu pada kemampuannya menjaga keamanan perdagangan laut internasional.

Ketidakmampuan Washington menjamin keamanan di jalur tersebut menjadi sorotan besar dan bahkan memicu laporan mengenai kemungkinan invasi darat ke Iran.

Setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi berat, Iran kini berbalik menegaskan pengaruhnya dengan menerapkan aturan sendiri di Selat Hormuz melalui kekuatan militer.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, setidaknya 17 kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan Iran di kawasan Teluk. Meski perusahaan asuransi Barat masih menyediakan perlindungan bagi kapal yang melintas, banyak operator enggan mengambil risiko akibat premi yang sangat tinggi.

Sementara itu, negara-negara Teluk sekutu AS sebagian besar tidak dapat menyalurkan minyak dan gas mereka melalui jalur tersebut. Sebaliknya, Iran tetap mampu mengekspor antara satu juta hingga 1,5 juta barel minyak per hari melalui Selat Hormuz.

Strategi Iran di Hormuz

Iran dinilai semakin memanfaatkan pengaruhnya atas Selat Hormuz. Sejumlah negara seperti India, Pakistan, Irak, Malaysia, dan Tiongkok dilaporkan telah melakukan pembicaraan dengan Teheran terkait akses ke jalur pelayaran vital tersebut.

Data pelacakan kapal menunjukkan Iran mengarahkan kapal-kapal yang melintas di dekat wilayah pesisirnya, yang oleh para ahli keamanan maritim dianggap sebagai bentuk pengawasan atas jalur tersebut.

Laporan Lloyd’s List menyebut Iran secara efektif telah membentuk koridor pelayaran “aman” secara de facto di perairan teritorialnya. Dalam satu kasus, Iran bahkan memperoleh pembayaran sebesar 2 juta dolar AS untuk mengizinkan sebuah kapal melintas.
Media lain melaporkan bahwa Iran juga menawarkan jalur aman bagi kapal yang muatan energinya dibeli menggunakan yuan Tiongkok.

Pendekatan ini dinilai lebih canggih dibanding strategi yang sebelumnya diterapkan kelompok Houthi di Laut Merah. Analis pengiriman dan komoditas, Michelle Wiese Bockmann, mengatakan bahwa Iran mengadopsi taktik serupa yang terbukti efektif dalam membatasi kapal-kapal yang berafiliasi dengan Barat.

“Iran menggunakan pola strategi seperti yang diterapkan Houthi, dan itu sangat, sangat efektif,” pungkas Wiese.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)