Anak Harimau di Bandung Zoo Mati Akibat Virus Panleukopenia

Bandung Zoo atau Kebun Binatang Bandung. MI

Anak Harimau di Bandung Zoo Mati Akibat Virus Panleukopenia

Media Indonesia • 25 March 2026 20:32

Bandung: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, menegaskan kematian seekor anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) bukan disebabkan oleh kelalaian perawatan, melainkan akibat infeksi virus bawaan dari induknya. Anak harimau bernama Hara itu dilaporkan mati pada usia 8 bulan, Selasa, 24 Maret 2026.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menerangkan, induk Harimau tersebut merupakan carrier atau pembawa virus yang kemudian menular kepada anak-anaknya sejak lahir. Dari dua anak harimau yang terinfeksi, satu tidak berhasil diselamatkan. Sedangkan yang lainnya, yakni Huru masih dalam penanganan intensif.

“Jadi saya tegaskan bukan karena tidak terawat, tapi karena virus yang dibawa induknya. Ini memang virus khas pada keluarga kucing besar,” jelas Farhan, Rabu, 25 Maret 2026.


Ilustrasi: Induk harimau benggala (Panthera tigris tigris) menjaga dua anaknya yang baru dilahirkan di Kebun Binatang Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/8/2025) (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Menurut Farhan, virus yang menyerang adalah Feline Panleukopenia, penyakit yang umum menyerang keluarga felin seperti harimau dan kucing. Virus ini diketahui dapat menyebabkan penurunan drastis sel darah putih, sehingga membuat kondisi tubuh hewan menjadi sangat lemah. Seluruh anak harimau langsung dipisahkan dari induknya sebagai langkah penanganan sejak awal. 

"Sedangkan induknya dalam kondisi sehat karena telah memiliki daya tahan terhadap virus tersebut, sementara anak-anaknya masih rentan. Pemkot bersama tim dokter hewan kini terus melakukan pemantauan ketat terhadap satu anak harimau yang masih bertahan," jelas Farhan. 

Berdasarkan laporan terbaru, kondisi anak harimau Huru mulai membaik. Anak harimau tersebut sudah tidak diare dan muntah. Kondisi Huru kini lebih aktif dibandingkan sebelumnya.

Penanganan medis dilakukan secara intensif oleh tim yang terdiri dari lima dokter hewan. Pengobatan meliputi pemberian antibiotik, antiemetik (anti-muntah), cairan rehidrasi untuk mencegah dehidrasi, suplemen imun, serta antivirus.

"Anak harimau tersebut telah melewati fase kritis selama 72 jam, yang menjadi indikator penting dalam proses pemulihan. Biasanya kalau sudah lewat fase kritis ini, peluang untuk terus membaik semakin besar. Tapi tetap harus dipantau secara intensif,” ujar dia.

Farhan memastikan, tidak ada unsur penelantaran dalam kasus ini. Seluruh tenaga medis disebut siaga penuh sejak awal penanganan. Ke depan, Farhan mengingatkan pentingnya evaluasi menyeluruh dalam pengelolaan satwa, khususnya terkait pengawasan penyakit menular pada hewan. Ini jadi pelajaran penting.

"Pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kota, akan memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali, sekaligus menjamin kesejahteraan seluruh satwa di kebun binatang tetap terjaga. Saya sangat prihatin dan sedih, tapi ini menjadi perhatian serius agar ke depan bisa kita antisipasi dengan lebih baik,” jelas Farhan. (MI/AN)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)