Kekurangan Dokter di Indonesia, Prabowo Siapkan 9 Fakultas Kedokteran Baru

Presiden Prabowo Subianto membacakan Nota Keuangan RAPBN 2026. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.

Kekurangan Dokter di Indonesia, Prabowo Siapkan 9 Fakultas Kedokteran Baru

Gabriella Thesa Widiari • 14 August 2026 17:06

Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan strategi pemerintah untuk mengatasi persoalan kurangnya tenaga kesehatan. Dia mengatakan, pemerintah akan membuka, fakultas kedokteran baru hingga opsi pemanfaatan dokter asing dalam jangka pendek.

Hal itu diungkapkan saat menyampaikan RAPBN 2027 dan Nota Keuangan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

"Kita harus menghadapi dan menyelesaikan masalah kekurangan dokter umum dan dokter spesialis kita," kata Prabowo.

Dia memerinci, saat ini Indonesia masi membutuhkan tambahan 84.781 dokter umum dan 127.580 dokter gigi. Selain itu, di 481 kabupaten/kota juga memerlukan tambahan 55.712 dokter spesialis.

Oleh karena itu, saat ini pemerintah telah membuka sembilan fakultas kedokteran baru. Serta 170 program studi spesialis dan subspesialis, baik yang berbasis perguruan tinggi maupun berbasis rumah sakit.


Presiden Prabowo Subianto membacakan Nota Keuangan RAPBN 2026. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
 

Pemerintah kaji dokter asing


Selain itu, pemerintah juga tengah mengkaji opsi pemberian izin dokter asing berpraktik di dalam negeri dengan waktu yang singkat. Alasannya karena proses proses pendidikan medis memakan waktu yang cukup panjang.

"Kita sedang memikirkan kita bisa mengundang dokter-dokter dari negara lain untuk praktik di sini untuk waktu-waktu yang terbatas. Karena kalau kita menunggu lulusnya 187 ribu dokter gigi, mungkin kita harus menunggu empat presiden sesudah saya," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, opsi tersebut menjadi langkah inovatif dari pemerintah untuk menjawab kurangnya tenaga medis, khususnya dokter-dokter spesialis yang ada di Indonesia.

"Saudara-saudara sekalian, rakyat kita menuntut, berharap pelayanan kesehatan secepat mungkin. Kita tidak boleh berpikir normatif, kita harus berani berpikir inovatif," kata Prabowo.

(Gabriella Thesa Widiari)