Ilustrasi sampah plastik. Foto: dok. MI.
Ancaman Sampah Plastik di Luat Indonesia
M. Iqbal Al Machmudi • 18 July 2026 15:20
Jakarta: Kondisi pencemaran laut di Indonesia kini semakin memprihatinkan. Tidak lagi hanya terjadi di kawasan perkotaan, kondisi ini telah meluas hingga wilayah pesisir yang jauh dari pusat aktivitas manusia.
“Sebagian besar pencemaran laut berasal dari aktivitas di daratan, seperti limbah domestik, industri, pertanian, maupun sampah yang terbawa sungai hingga ke laut,” kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University Prof Etty Riani, dikutip dari Media Indonesia, Sabtu, 18 Juli 2026.
Dia mengungkapkan, sampah plastik masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran laut di Indonesia. Berdasarkan berbagai penelitian di wilayah pesisir, jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, hingga jaring dan tali plastik.
Menurutnya, persoalan sampah plastik menjadi semakin serius. Sebab, sulit terurai dan dapat bertahan ratusan tahun di lingkungan.
Seiring waktu, plastik akan terpecah menjadi mikroplastik bahkan nanoplastik yang kini telah ditemukan di air laut, sedimen, ikan, kerang, udang, teripang, hingga garam. Kondisi ini berpotensi mengancam kesehatan ekosistem maupun manusia melalui rantai makanan.
"Apabila pencemaran laut terus dibiarkan selama 10 hingga 20 tahun ke depan, dampaknya akan sangat luas," kata Etty.
Pencemaran yang terjadi menyebabkan menurunnya kualitas air. Selain itu juga merusak ekosistem seperti seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai biota laut.

Ilustrasi laut. Foto: Istimewa.
Dia mengatakan, persoalan itu akan perlahan menimbulkan persoalan baru bagi manusia. Jika dibiarkan, maka ketahanan pangan hingga kesehatan menjadi terancam.
"Produktivitas perikanan diperkirakan menurun akibat rusaknya habitat ikan, sementara akumulasi bahan pencemar dan mikroplastik pada biota laut dapat mengancam keamanan pangan dan kesehatan masyarakat," ujar Etty.
Dari sisi ekonomi, nelayan berisiko mengalami penurunan hasil tangkapan dan kualitas produk perikanan. Sedangkan sektor wisata bahari juga dapat terdampak akibat menurunnya kualitas lingkungan pesisir.
Oleh karena itu, semua pihak memiliki peran besar dalam mencegah sampah berakhir di laut. Berbagai langkah sederhana bisa dimulai untuk menyelamatkan laut Indonesia, di antara mulai mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang sampah ke sungai maupun laut.
“Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat. Dengan begitu, kita dapat mewariskan ekosistem laut yang sehat dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” kata Etty.