Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi. (Anadolu Agency)
Mesir Bahas Reklamasi Lahan Pertanian dan Isu Air Sungai Nil dengan Tanzania
Willy Haryono • 19 July 2026 13:31
Kairo: Mesir menyatakan minatnya untuk mengembangkan proyek reklamasi lahan pertanian dan pembangunan kawasan logistik di Tanzania.
Kedua negara juga membahas upaya memperkuat kerja sama terkait pengelolaan sumber daya air di antara negara-negara yang berada di kawasan Sungai Nil.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam konferensi pers bersama Presiden Tanzania Samia Suluhu Hassan di sela kunjungannya ke ibu kota Tanzania pada Sabtu kemarin.
Dalam pertemuan tersebut, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Minggu, 19 Juli 2026, Hassan memuji Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Julius Nyerere yang dibangun dengan keterlibatan Mesir.
Menurut Sisi, proyek tersebut menjadi contoh positif kerja sama yang bertujuan mendorong pembangunan dan kemakmuran.
Mesir diketahui menandatangani kontrak pembangunan bendungan dan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 2.115 megawatt di Tanzania pada Desember 2018. Pada 2022, Mesir juga menghadiri peluncuran pengisian awal waduk bendungan tersebut.
Setelah pertemuan bilateral yang diperluas, kedua pemimpin menyaksikan penandatanganan dua nota kesepahaman di bidang transportasi, ketenagalistrikan, dan energi terbarukan.
Sisi mengatakan kedua negara juga membahas peluang memulai proyek reklamasi lahan pertanian di Tanzania untuk mendukung ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan komoditas strategis. Ia menyebut proyek tersebut direncanakan dikembangkan secara bertahap hingga berorientasi ekspor.
Selain sektor pertanian, Mesir menyatakan kesiapan untuk berpartisipasi dalam perluasan dan pengembangan Pelabuhan Dar es Salaam. Menurut Sisi, proyek tersebut perlu diintegrasikan ke dalam jaringan koridor logistik regional yang menghubungkan Tanzania dengan negara-negara tetangganya.
Ia juga mengusulkan pembukaan jalur pelayaran yang menghubungkan Pelabuhan Safaga di Mesir dengan Pelabuhan Dar es Salaam, serta pembangunan koridor multimoda antara Kairo dan Dar es Salaam melalui sejumlah proyek bersama.
Negara Aliran Sungai Nil
Dalam kesempatan itu, Sisi menyatakan harapannya agar Tanzania terus memainkan peran konstruktif dalam mendorong saling pengertian dan semangat kerja sama di antara negara-negara yang berbagi aliran Sungai Nil.Tanzania merupakan salah satu dari 11 negara di kawasan Sungai Nil bersama Burundi, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, Kenya, Uganda, Ethiopia, Eritrea, Sudan Selatan, Sudan, dan Mesir.
Pada Oktober 2024, Kementerian Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir meminta negara-negara yang menandatangani Perjanjian Entebbe untuk meninjau kembali posisi mereka dan kembali melanjutkan dialog kerja sama. Mesir sebelumnya menyatakan kekhawatiran bahwa perjanjian tersebut dapat memengaruhi jatah tahunan air Sungai Nil yang menjadi sumber utama pasokan air bagi negara itu.
Secara terpisah, kedua presiden juga menghadiri penutupan forum bisnis yang diikuti lebih dari 35 perwakilan dunia usaha Mesir dan sekitar 120 pelaku usaha Tanzania.
Sisi mengatakan pembahasan dalam forum tersebut menghasilkan sejumlah perkembangan di sektor perdagangan dan investasi. Kedua negara juga sepakat melanjutkan proyek bersama di bidang pertanian, peternakan, pengembangan pelabuhan, konektivitas maritim dan perkeretaapian, kawasan logistik, jalan, serta infrastruktur untuk mendukung kelancaran perdagangan dan distribusi barang.
Berdasarkan data Mesir, nilai perdagangan antara Mesir dan Tanzania mencapai 12,3 juta dolar AS pada kuartal pertama 2026, sementara ekspor Mesir ke Tanzania meningkat 3,2 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Baca juga: Trump Tawarkan Mediasi Sengketa Air Sungai Nil antara Mesir dan Ethiopia