Ilustrasi, grafik pergerakan harga bitcoin. Foto: dok Istimewa.
Tensi Geopolitik Global Bikin Bitcoin Terjun Bebas hingga di Bawah USD90 Ribu
Husen Miftahudin • 21 January 2026 22:18
Jakarta: Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah dan turun ke bawah level psikologis USD90 ribu pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, seiring meningkatnya tensi geopolitik dan aksi jual di pasar aset berisiko. Berdasarkan data CoinMarketCap, bitcoin sempat menyentuh kisaran USD87 ribu sebelum bergerak fluktuatif.
Pelemahan ini sendiri terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, yang dikaitkan dengan tekanan Washington kepada Denmark agar mempertimbangkan kembali kendalinya atas Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.
Namun, tekanan tidak hanya terjadi di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global. Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi pemerintah bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.
Menanggapi kondisi ini, Vice President Indodax Antony Kusuma menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.
"Dalam situasi seperti ini, bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global masuk ke fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual," jelas Antony seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 21 Januari 2026.
Menurut Antony, kepanikan jangka pendek kerap muncul ketika investor global berusaha menyeimbangkan ulang portofolio investasi mereka di tengah ketidakpastian. Hal ini terlihat dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto.
"Yang perlu dicermati adalah bahwa pergerakan ini lebih didorong oleh faktor eksternal, bukan perubahan fundamental di ekosistem Bitcoin dan kripto. Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga," lanjut dia.
| Baca juga: Data Inflasi AS Redam Kekhawatiran Pasar, Bitcoin Langsung Menguat ke USD97 Ribu |

(Vice President Indodax Antony Kusuma. Foto: dok Indodax)
Kripto makin 'erat' dengan sistem keuangan global
Antony menambahkan, sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam sering kali beriringan dengan guncangan makro. Terutama ketika bitcoin semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.
"Partisipasi institusi membuat bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global," kata Antony.
Meski demikian, Antony menekankan volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor, menurutnya, perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.
"Periode seperti ini menegaskan pentingnya perspektif jangka panjang dan pemahaman risiko. Pasar kripto akan terus bergerak mengikuti arus global, dan ketahanan investor diuji justru saat ketidakpastian meningkat," beber Antony.
Antony menekankan volatilitas tinggi seringkali memicu perilaku fear of missing out (FOMO) di kalangan investor. Dalam situasi seperti ini, ia menilai penting bagi pelaku pasar untuk tetap disiplin melakukan do your own research (DYOR), memahami risiko, serta tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan tekanan emosi jangka pendek di tengah ketidakpastian global.