Puncak Musim Hujan, Warga Bantaran Sungai Yogyakarta Diminta Waspada Banjir

Kawasan permukiman di pinggiran Sungai Code, Kota Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Puncak Musim Hujan, Warga Bantaran Sungai Yogyakarta Diminta Waspada Banjir

Ahmad Mustaqim • 23 January 2026 15:24

Yogyakarta: Masyarakat yang tinggal di kawasan tepi sungai di Kota Yogyakarta diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, seiring memasuki puncak musim hujan. Beberapa hari lalu, banjir sempat melanda kawasan Sungai Gajahwong dan menyebabkan kerusakan di sejumlah titik.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak Maryadi Utama** mengatakan kondisi debit Sungai Code yang melintasi pusat Kota Yogyakarta hingga kini masih dalam batas terkendali. Kondisi serupa juga terjadi di Sungai Winongo dan Sungai Gajahwong.

"Komunitas sungai memiliki peran penting dalam menghadapi musim penghujan saat ini," kata Maryadi, Jumat, 23 Januari 2026.

Kawasan permukiman di pinggiran Sungai Code, Kota Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim

Menurut dia, keterlibatan aktif komunitas menjadi bagian penting dalam upaya antisipasi dampak musim hujan. Kawasan tepi sungai, kata Maryadi, membutuhkan tutupan vegetasi yang memadai sebagai penahan air dan tanah.

"Kita harus terus menanam, setiap hari, setiap orang, walaupun hanya sejengkal. Ini bagian dari ikhtiar kita mencegah cuaca ekstrem," katanya.

Di Kota Yogyakarta, terdapat Komunitas Sungai Code yang berasal dari masyarakat sekitar. Maryadi menilai komunitas tersebut dapat menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat sekaligus bersinergi dengan berbagai pihak, mulai dari perangkat daerah, pemerintah pusat, hingga sektor swasta.

"Komunitas yang berasal dari unsur masyarakat sangat strategis untuk mengedukasi warga. Kita jaga tutupan lahan dan kebersihan sungai agar bencana seperti banjir bandang dan longsor tidak terjadi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Peduli Sungai Bendung Surokarsan **Sodik Ridwanto** mengatakan fokus utama komunitas tetap pada upaya menjaga kebersihan sungai. Namun, komunitas juga mendorong pengembangan potensi ekonomi, seni, dan budaya di kawasan Bendung Surokarsan.

"Inti kami tetap menjaga kebersihan sungai. Tapi kami juga akan mengembangkan kegiatan ekonomi, seni, dan budaya di sini," kata Sodik.

Di sisi lain, Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau Publik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta **Rina Aryati Nugraha** mengatakan pihaknya melakukan pendataan secara berkelanjutan terhadap kondisi pohon melalui pengawas lapangan dan petugas pemelihara taman. Petugas juga wajib melaporkan pohon-pohon yang rawan tumbang.

"Kami segera menindaklanjuti laporan kalau ada pohon yang sudah keropos atau mati dan yang membahayakan karena rawan tumbang. Saat cuaca ekstrem kalau ada kejadian pohon tumbang meskipun tidak di wilayah pemeliharaan kita tetap tindaklanjuti asal kendaraan bisa menjangkau," kata Rina.

DLH Kota Yogyakarta mencatat terdapat 20.537 pohon perindang yang dikelola dan tersebar di seluruh jalan raya wilayah Kota Yogyakarta. Jenis pohon tersebut antara lain Tanjung, Angsana, Sawo Kecik, Tabebuya, Glodokan Pecut, dan Glodokan biasa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)