Pasar Pelumas Indonesia Tembus 1 Juta Ton, Terbesar di Asia Tenggara

Senior Director Kline & Company Satyan Gupta (tengah). Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.

Pasar Pelumas Indonesia Tembus 1 Juta Ton, Terbesar di Asia Tenggara

Husen Miftahudin • 22 September 2026 19:37

Jakarta: Indonesia menjadi salah satu negara dengan permintaan pelumas terbesar di Asia Tenggara. Permintaan pelumas di Indonesia diperkirakan mencapai satu juta ton atau seperempat dari total permintaan di kawasan Asia Tenggara yang mencapai hampir empat juta ton.
 
Senior Director Kline & Company Satyan Gupta mengungkapkan besarnya permintaan tersebut membuat Indonesia memiliki peran penting dalam pasar pelumas di kawasan. Secara global, permintaan pelumas diperkirakan mencapai hampir 40 juta ton dengan nilai sekitar USD180 miliar.
 
"Asia Tenggara, kawasan tempat kita berada, menyumbang hampir empat juta ton dan Indonesia menyumbang seperempat dari volume tersebut. Jadi, secara kasar ukuran pasar pelumas Indonesia mencapai satu juta ton," ujar Satyan dalam Media Shell Lubricants di Jakarta, dikutip Selasa, 22 September 2026.
 
Menurut Satyan, pertumbuhan pasar pelumas Indonesia didukung kombinasi faktor makroekonomi dan perkembangan sejumlah sektor industri. "Selain itu, pertumbuhan di Indonesia didukung oleh kombinasi faktor-faktor makroekonomi, faktor-faktor khusus industri, serta pendorong-pendorong lainnya," tutur dia.
 
Saat ini, permintaan pelumas di Indonesia masih terkonsentrasi di wilayah barat. Berdasarkan laporan Kline & Company, Pulau Jawa dan Sumatra menyumbang hampir 75 persen dari konsumsi pelumas nasional.
 
Namun, Satyan mengungkapkan distribusi permintaan pelumas diperkirakan mulai bergeser seiring berkembangnya aktivitas ekonomi di luar Jawa dan Sumatra. Kalimantan dan Sulawesi menjadi wilayah yang diperkirakan mencatat peningkatan permintaan ke depan.
 
"Jadi, akan ada lebih banyak permintaan yang tercipta di Kalimantan dan Sulawesi pada masa mendatang. Hal ini tentunya berdampak pada bagaimana Anda membuat perencanaan ke depan dan bagaimana Anda merencanakan model pasar," ujar Satyan.
 
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas pembangunan, urbanisasi, serta perkembangan sektor industri di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat distribusi permintaan pelumas Indonesia diperkirakan menjadi lebih merata ke depan.
 


Strategi Industri Pelumas Perkuat Daya Saing Global

(Ilustrasi. Foto: iStock)

 

Sektor industri dan komersial jadi penopang

 
Selain pergeseran wilayah, pertumbuhan permintaan pelumas Indonesia diperkirakan akan semakin ditopang sektor komersial dan industri. Sektor komersial mencakup kegiatan logistik serta aktivitas off-highway seperti konstruksi, pertambangan, dan pertanian. Sementara sektor industri mencakup manufaktur, pembangkit listrik, hingga utilitas.
 
Satyan memperkirakan pertumbuhan permintaan pelumas ke depan akan lebih banyak berasal dari sektor komersial dan industri. Sementara itu, porsi sektor konsumen berpotensi menurun seiring perubahan struktur pasar.
 
"Namun, yang juga menarik adalah jika kita membandingkan pertumbuhan di ketiga sektor tersebut, kami melihat pertumbuhan yang lebih besar akan berasal dari sektor industri dan komersial," ungkap Satyan.
 
Meskipun begitu, sektor konsumen di Indonesia masih tergolong cukup tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Kondisi tersebut didorong besarnya populasi serta tingginya penggunaan kendaraan pribadi di Indonesia.
 
Namun, seiring berkembangnya sektor industri dan komersial, komposisi permintaan pelumas diperkirakan mulai bergeser. Pertumbuhan dari kedua sektor tersebut diproyeksikan lebih tinggi dibandingkan sektor konsumen dalam beberapa tahun ke depan.
 
Menurut Satyan, perubahan kebutuhan pelumas juga dipengaruhi perkembangan aktivitas pada masing-masing sektor. Pada segmen konsumen, pertumbuhan platform ride-hailing seperti Gojek, Grab, dan Bluebird menjadi salah satu perubahan yang turut diperhatikan. Sementara perkembangan serupa terjadi pada layanan last-mile di sektor komersial.
 
"Salah satu hal lain yang juga kami pantau, misalnya, adalah perubahan dinamika para pemangku kepentingan. Di segmen konsumen, kami melihat pertumbuhan platform ride-hailing seperti Gojek, Grab, Bluebird, dan sebagainya. Demikian pula, kami melihat perkembangan tersebut terjadi di sektor konektivitas last-mile pada segmen komersial," tutur dia.
 
Sementara pada sektor industri, peluang pertumbuhan dinilai tidak merata pada seluruh subsektor. Sejumlah sektor yang dinilai memiliki potensi antara lain perkapalan, logam, pertambangan, hingga pembangkit listrik.
 
Perkembangan energi terbarukan dan sistem penyimpanan baterai turut membuka kebutuhan baru terhadap produk pelumas khusus dan cairan untuk pengelolaan termal. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Husen Miftahudin)