Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, Christen Marpaung, menyampaikan bahwa Gelombang Ekuatorial Rossby yang masih terpantau aktif, serta adanya belokan angin dan konvergensi, dapat memicu aktivitas konvektif di wilayah Sumatera Utara.
"Selain itu, suhu muka laut yang hangat di Samudra Hindia barat dan utara Sumatera juga berpotensi meningkatkan penguapan sehingga menambah kandungan uap air di atmosfer," ujar Christen di Medan, seperti dilansir Antara, Rabu, 5 Agustus 2026.
Pola angin di wilayah Sumatra Utara umumnya bertiup dari arah Tenggara hingga Barat Daya dengan kecepatan berkisar antara 5 hingga 30 knot.
Gelombang dengan ketinggian 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia barat Kepulauan Nias, perairan Barat Kepulauan Batu, dan perairan Barat Kepulauan Nias.
Sementara itu, gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di perairan Timur Kepulauan Nias, perairan Barat Sumatra Utara, dan perairan Kepulauan Batu.
BMKG mengingatkan berbagai pihak, terutama nelayan dengan perahu kecil, agar mewaspadai kondisi ini. Kapal tongkang dan kapal ferry juga diminta waspada terhadap potensi gelombang tinggi yang dapat membahayakan keselamatan pelayaran. Masyarakat dan pelaku usaha kelautan diimbau untuk terus memantau informasi cuaca maritim terkini melalui kanal resmi BMKG.
(1).jpg)
Ilustrasi gelombang tinggi Medcom.id