Ilustrasi: Alex Green/Pexels
Cegah Kecanduan Gadget, Ini Panduan Mengatur Screen Time Anak
Riza Aslam Khaeron • 11 July 2026 18:32
Jakarta: Menjelang peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 yang jatuh pada 23 Juli 2026, perhatian kita kembali tertuju pada pentingnya kualitas tumbuh kembang anak di era modern. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi orang tua hari ini adalah mendampingi anak di tengah kepungan teknologi dan layar digital.
Mengutip artikel dari laman UNICEF, anak-anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu di depan gawai rentan mengalami overstimulasi pada sistem sensorik mereka. Rentetan sinyal, warna, dan rangsangan cepat dari layar dalam waktu singkat dapat membuat anak menjadi mudah cemas, rewel, bahkan berperilaku agresif.Tidak hanya memengaruhi emosi, paparan layar yang berlebihan juga dapat menghambat proses belajar menulis serta mengganggu perkembangan kemampuan motorik halus dan kasar anak. Oleh karena itu, mengatur screen time (waktu menatap layar) secara bijak merupakan langkah krusial dalam menjaga kesehatan fisik dan mental buah hati.
Mengutip laman Mayo Clinic, berikut adalah panduan lengkap yang bisa Anda terapkan di rumah:
Panduan Batas Usia Screen Time
American Academy of Pediatrics (AAP) merumuskan acuan batas waktu penggunaan layar berdasarkan tahapan usia anak sebagai berikut:- Di bawah 18 bulan: Sangat tidak disarankan untuk terpapar media digital sama sekali, kecuali untuk melakukan panggilan video (video call) bersama keluarga.
- 18–24 bulan: Jika Anda ingin mulai mengenalkan media digital, pilihlah konten interaktif yang berkualitas tinggi dan pastikan Anda selalu mendampingi anak saat penggunaan.
- 2–5 tahun: Batasi waktu menatap layar maksimal satu jam per hari. Pastikan tayangan yang dipilih bersifat edukatif dan berkualitas tinggi.
- Di atas 5 tahun: Tidak ada batas tunggal yang kaku. Orang tua perlu menetapkan batasan yang fleksibel namun konsisten, disesuaikan dengan kebutuhan, aktivitas fisik, dan perkembangan anak.
Tips Memastikan Kualitas Screen Time
.jpg)
Ilustrasi: Jessica Lewis/Pexels
Menjaga kualitas konten jauh lebih penting daripada sekadar membatasi waktu. Berikut beberapa cara untuk memastikan anak mendapatkan manfaat positif dari media digital:
- Selalu periksa (preview) program, gim, atau aplikasi secara mandiri sebelum memberikan izin kepada anak.
- Utamakan konten yang mengajak anak berpikir, memecahkan masalah, atau bergerak, bukan sekadar menonton pasif atau mengusap layar tanpa arah.
- Manfaatkan fitur parental control (kontrol orang tua) untuk memblokir dan menyaring konten negatif di internet.
- Pastikan anak berada di ruang yang sama dengan Anda saat menggunakan gawai agar aktivitas digital mereka tetap terpantau dengan hangat.
- Tanyakan secara berkala mengenai hal menarik apa saja yang mereka temukan dari program atau gim yang mereka mainkan hari itu.
- Gunakan momen menonton bersama untuk mendiskusikan isi tayangan serta mengajari anak membedakan mana konten informasi faktual dan mana yang sekadar iklan komersial.
- Jauhkan anak dari program bertempo terlalu cepat yang membingungkan, konten yang mengandung unsur kekerasan, serta aplikasi yang dipenuhi iklan mengganggu.
| Baca Juga: Darurat Kesehatan Mental Anak, Rerie Dorong Langkah Nyata dan Kolaborasi |
Tips Menetapkan Batasan untuk Anak yang Lebih Besar
Untuk anak-anak usia sekolah, batasan yang jelas akan membantu mereka tetap terhubung dengan dunia nyata:- Luangkan waktu khusus bagi anak untuk bermain bebas di luar ruangan atau melakukan hobi fisik (unplugged playtime).
- Sepakati area atau waktu khusus di mana tidak boleh ada gawai yang menyala, misalnya di meja makan atau saat hari keluarga di akhir pekan.
- Terapkan aturan tegas untuk tidak menggunakan media hiburan atau gawai selama waktu mengerjakan tugas sekolah.
- Tetapkan batas waktu harian yang jelas dan pastikan semua layar dimatikan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur untuk menjaga kualitas istirahat anak.
- Jika diperlukan, manfaatkan aplikasi pengatur durasi untuk membantu membatasi pemakaian perangkat secara otomatis.
- Jauhkan televisi atau gawai dari kamar tidur anak, dan biasakan mereka mengisi daya baterai perangkat di luar kamar pada malam hari.
- Hindari membiarkan televisi tetap menyala sebagai "suara latar" jika tidak ada yang benar-benar menontonnya.