Dubes Venezuela di PBB Sebut Serangan Bersenjata AS Tidak Sah

Perwakilan Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada. Foto: Anadolu

Dubes Venezuela di PBB Sebut Serangan Bersenjata AS Tidak Sah

Fajar Nugraha • 6 January 2026 19:26

New York: Sejumlah duta besar negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengkritik keras operasi Amerika Serikat (AS) di Venezuela dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB di New York, Senin, 5 Januari 2026. Mereka mempertanyakan dasar hukum tindakan militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.

Perwakilan Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, menyebut operasi tersebut sebagai serangan bersenjata tidak sah tanpa dasar hukum yang jelas. Ia menilai penangkapan Maduro merupakan tindakan yang sangat serius dan melanggar kedaulatan negara. Moncada menuding kepentingan sumber daya alam sebagai motif utama intervensi tersebut.
 

“Minyak, energi, sumber daya strategis, dan posisi geopolitik negara kami sejak lama menjadi sasaran keserakahan dan tekanan eksternal,” ujar Moncada, dikutip dari media ABC News, Selasa, 6 Januari 2026.

Kritik juga disampaikan oleh perwakilan Kolombia, Prancis, Denmark, Rusia, dan Iran. Duta Besar Kolombia Leonor Zalabata menyatakan tindakan AS merupakan pelanggaran nyata terhadap kedaulatan, kemerdekaan politik, dan keutuhan wilayah Venezuela, serta bertentangan dengan hukum internasional.

Prancis menilai operasi itu melanggar prinsip penyelesaian damai, sementara Rusia menyebutnya sebagai operasi kriminal.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui pernyataan yang dibacakan dalam rapat, menyatakan keprihatinan mendalam karena tindakan militer AS tidak menghormati hukum internasional. Ia juga mengingatkan dampak negatif terhadap stabilitas kawasan dan preseden berbahaya yang dapat ditimbulkan.

Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz membela operasi tersebut dan menyebutnya sebagai langkah penegakan hukum untuk melawan narkoterorisme. “Amerika Serikat tidak menduduki Venezuela,” ucap Waltz.

Ia menegaskan Maduro akan diadili di AS sesuai supremasi hukum. Maduro dan istrinya menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana di New York, dan menyatakan dirinya masih presiden Venezuela, sementara wakil presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai pemimpin sementara negara itu.

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)