Suhu di Kawah Gunung Slamet kembali meningkat dan mengumpulkan asap putih. MI
Aktivitas Gunung Slamet Meningkat, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km
Media Indonesia • 18 April 2026 20:53
Pemalang: Aktivitas Gunung Slamet yang berada di lima daerah di Jawa Tengah kembali meningkat. Suhu kawah naik dari sebelumnya 461,9 derajat celsius menjadi 478,7 derajat celsius.
Warga diminta menjauh dari kawah dengan radius 3 kilometer dan jalur pendakian masih ditutup pada Sabtu, 18 April 2026. Sejak dini hari, asap tebal kembali terlihat membubung tinggi hingga mencapai 300 meter dari puncak Gunung Slamet. Gunung ini berada di lima daerah, yakni Kabupaten Pemalang, Tegal, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga. Meskipun demikian, hingga saat ini Gunung Slamet masih berstatus waspada (Level II).
Terpantau dari pos pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan, Pulosari, Kabupaten Pemalang, gunung dengan ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl) kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
"Berdasarkan pengukuran rutin terjadi kenaikan suhu di kawah gunung," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet, Muhammad Rusdi, di Pemalang, Sabtu, 18 April 2026.
Status Masih Waspada Level II, Rekomendasi Jarak Aman Tidak Berubah
Menurut Muhammad Rusdi, meskipun terjadi kenaikan suhu dari sebelumnya 461,9 derajat celsius menjadi 478,7 derajat celsius, otoritas memastikan belum ada perubahan status aktivitas. Rekomendasi jarak aman dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga belum berubah.
Status dan rekomendasi Gunung Slamet, ungkap Muhammad Rusdi, masih tetap sama, yakni waspada di Level II. Warga maupun wisatawan diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah puncak gunung.
"Selain terlihat kepulan asap putih akibat suhu meningkat, juga terjadi kegempaan hembusan," tambahnya.

Gunung Slamet terlihat dari Desa Karangnanas, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (4/4/2026) sore. ANTARA/Sumarwoto
Sementara itu, warga di lereng Gunung Slamet di lima daerah tetap beraktivitas seperti biasa. Para petani terpantau tetap menggarap lahan mereka, terutama untuk budidaya sayuran seperti sawi, kol, wortel, dan kentang serta tanaman palawija.
Aktivitas Gunung Slamet yang meningkat saat ini tidak membuat warga di lereng gunung tersebut terpengaruh. Meskipun beberapa warga mengaku merasakan kegempaan.
"Kami tetap mengolah lahan pertanian, yang penting tidak naik ke puncak mendekati kawah," ujar Harjono, seorang petani di Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Hal serupa diungkapkan Suwardi, petani di Bobotsari, Purbalingga. Ia mengaku belum terpengaruh terhadap peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet karena sejak awal April lalu gunung sudah sering mengeluarkan kepulan asap putih dari bagian puncak yang merupakan kawah gunung.
"Kami sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini terjadi setiap tahunnya, jadi kami tidak terpengaruh dan tetap beraktivitas bertani," tambahnya.