Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance. Foto: EFE
Wapres AS Tegaskan Iran Tak Akan Diizinkan Miliki Senjata Nuklir
Muhammad Reyhansyah • 26 February 2026 15:28
Washington: Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memperoleh senjata nuklir.
Vance pada Rabu, 25 Februari 2026 menyatakan, diplomasi tetap menjadi jalur utama pemerintahan Presiden Donald Trump, namun opsi lain tetap tersedia.
Dalam wawancara dengan Fox News, Vance mengatakan Trump telah sangat jelas bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Itu akan menjadi tujuan militer utama jika itu jalur yang dipilih. Tentu saja kami berusaha mencapainya melalui jalur yang lebih diutamakan, yaitu diplomasi,” kata Vance, dikutip dari Anadolu, Kamis, 26 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa AS harus memastikan Iran tidak dapat mengancam dunia dengan “terorisme nuklir.”
Vance berpendapat sebagian besar warga Amerika sepakat bahwa Iran tidak boleh mengembangkan kemampuan senjata nuklir, menyebutnya sebagai isu keamanan nasional dan global.
Ia mengatakan Trump akan berupaya mencapai tujuan tersebut secara diplomatik, namun memiliki berbagai instrumen lain jika diperlukan.
“Kami berharap bisa mencapai resolusi yang baik tanpa militer, tetapi jika harus menggunakan militer, presiden tentu memiliki hak itu,” ujarnya.
Delegasi Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir tidak langsung dengan mediasi Oman di Jenewa, Swiss, pada Kamis. Vance mengatakan ia berharap Iran menanggapi negosiasi tersebut dengan serius.
Saat ditanya apakah itu dapat mencakup upaya mengganti pemimpin tertinggi Iran, Vance menolak berspekulasi dan menyatakan keputusan akhir berada di tangan presiden.
Dalam konferensi pers terpisah, Vance mengatakan AS melihat indikasi bahwa Iran berupaya membangun kembali kapasitas senjata nuklirnya setelah serangan AS pada Juni lalu yang menurut pemerintahan Trump telah menghancurkan fasilitas nuklir Teheran.
“Jika mereka mencoba membangun kembali senjata nuklir, itu menimbulkan masalah bagi kami. Kami telah melihat bukti bahwa mereka mencoba melakukan hal itu,” katanya.
Sehari sebelumnya, Trump mengklaim Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang dapat menjangkau wilayah AS. Namun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa rudal negaranya untuk kepentingan pertahanan bukan invasi.