Petugas gabung memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Dok. Istimewa
Kemenhut Padamkan Kebakaran 30 Hektare Lahan di TN Gunung Rinjani
M Sholahadhin Azhar • 10 August 2026 10:35
Jakarta: Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) menangani kebakaran hutan di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Penanganan bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) dan tim gabungan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Sistem peringatan dini, termasuk pemantauan titik panas, perlu dimanfaatkan untuk mencegah kebakaran meluas.
“Jangan menunggu api membesar. Manfaatkan sistem peringatan dini kita melalui pantauan hotspot Sipongi+ dan teknologi lainnya, lakukan deteksi awal, dan lakukan penanganan sedini mungkin. Setiap upaya pencegahan dan penanggulangan dini merupakan langkah penting untuk menjaga hutan tetap lestari,” kata Menhut dalam keterangan tertulis, Senin, 10 Agustus 2026.
Kebakaran di kawasan Taman Nasional (TN) Gunung Rinjani didominasi tutupan savana dan semak belukar kering. Respons cepat dilakukan setelah informasi kebakaran diterima dari pengelola kawasan.
Balai Dalkarhut Jabalnusra Seksi Wilayah III Mataram langsung mengerahkan personel dan sarana prasarana pemadaman untuk memperkuat upaya penanganan yang dilakukan tim gabungan di lapangan.
Api yang membakar lahan seluas kurang lebih 30 hektare di kawasan TN Gunung Rinjani berhasil dikendalikan pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Setelah api utama berhasil dipadamkan, tim melanjutkan penyisiran atau mop-up hingga pukul 01.30 WITA dan pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara maupun sumber api yang berpotensi kembali menyala.
Setelah api utama berhasil dipadamkan, personel melanjutkan kegiatan mop-up atau penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara maupun sumber api yang berpotensi kembali menyala.
Pemantauan lanjutan juga dilakukan hingga seluruh titik api dipastikan benar-benar padam. Langkah tersebut penting dilakukan karena kawasan terbakar memiliki vegetasi savana dan semak belukar yang mudah terbakar, terutama dalam kondisi musim kemarau.
Respons cepat terhadap kebakaran di kawasan TN Gunung Rinjani menjad upaya Kementerian Kehutanan menjaga kawasan konservasi dari ancaman kebakaran. Pengendalian api sejak dini, penyisiran pascakebakaran, serta penguatan kolaborasi di lapangan menjadi langkah penting untuk menjaga ekosistem Rinjani tetap lestari.
Baca Juga :
Kebakaran Savana Bromo Meluas hingga 520 Hektare
Sementara itu, Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menegaskan kecepatan respons dan kolaborasi lintas pihak menjadi kunci mencegah kebakaran hutan meluas.
“Setiap kejadian kebakaran di kawasan konservasi harus direspons sedini mungkin. Kecepatan Manggala Agni bersama pengelola kawasan dan seluruh unsur di lapangan dalam melakukan pemadaman menjadi kunci penanggulangan dini kebakaran hutan. Kolaborasi ini harus terus diperkuat, karena keberhasilan pengendalian kebakaran merupakan tanggung jawab bersama,” tegas Bambang.
Menurut dia, penanganan kebakaran tidak berhenti setelah api padam. Pemantauan dan kewaspadaan tetap diperlukan, khususnya pada kawasan dengan vegetasi savana yang mudah terbakar pada kondisi kemarau.
TN Gunung Rinjani merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Nusa Tenggara Barat. Kawasan tersebut memiliki fungsi ekologis dalam menjaga keanekaragaman hayati, habitat berbagai jenis flora dan fauna, tata air, serta keberlanjutan ekosistem.
.jpeg)
Petugas gabung memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Dok. Istimewa
Selain memiliki fungsi ekologis, kawasan TN Gunung Rinjani memiliki nilai sosial dan budaya penting bagi masyarakat sekitar yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Oleh karena itu, upaya pelestarian kawasan konservasi harus dilakukan secara bersama-sama, salah satunya melalui pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dengan melibatkan seluruh pihak.
Bambang menegaskan keberhasilan pengendalian kebakaran di Sembalun tidak terlepas dari sinergi berbagai unsur yang terlibat di lapangan. Menurut Bambang, operasi pemadaman di Sembalun menunjukkan pentingnya sinergi antara Manggala Agni, pengelola kawasan, TNI, Polri, MPA/MMP, masyarakat, dan unsur terkait lainnya.
"Kerja bersama di lapangan memungkinkan api segera dilokalisasi dan dipadamkan sebelum berkembang lebih luas," kata Bambang.
Kementerian Kehutanan terus mengingatkan seluruh jajaran dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pada musim kemarau.
Masyarakat yang melihat kemunculan asap atau tanda-tanda kebakaran di dalam maupun sekitar kawasan hutan diharapkan segera melapor kepada petugas atau pengelola kawasan agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.