Gabriella Kuswandi, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Pertamina meraih Juara 1 Young Scientist Competition 2026. Foto: dok Universitas Pertamina.
Mahasiswa RI Garap Teknologi Penyimpanan Hidrogen untuk Kendaraan Listrik
Ade Hapsari Lestarini • 7 September 2026 09:42
Jakarta: Pengembangan teknologi penyimpanan hidrogen menjadi salah satu tantangan dalam pemanfaatan hidrogen untuk sektor transportasi. Persoalan tersebut mendorong Gabriella Kuswandi, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Pertamina, mengembangkan gagasan penggunaan material ZIF-8 untuk sistem penyimpanan hidrogen kendaraan listrik berbasis sel bahan bakar.
Gagasan tersebut mengantarkan Gabriella meraih Juara 1 Young Scientist Competition 2026 dalam rangkaian Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026. Kompetisi yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama International Fuel Cell and Hydrogen Energy Association (IFHE) tersebut berlangsung pada 21-23 Juli 2026 di Assembly Hall, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.
Gabriella mengangkat karya berjudul "From MOF-5 to ZIF-8: Towards a Practical Hydrogen Storage System for Fuel Cell Electric Vehicles". Dalam karya tersebut, ia mengembangkan gagasan sistem penyimpanan hidrogen dengan menggunakan ZIF-8 sebagai alternatif material penyerap hidrogen.
Pengembangan tersebut berangkat dari prototipe penyimpanan hidrogen yang dikembangkan Hydrogen Storage Engineering Center of Excellence (HSECoE) dengan menggunakan material MOF-5. Gabriella melihat terdapat sejumlah tantangan pada material tersebut, terutama terkait proses sintesis dan stabilitas setelah melalui beberapa siklus pengisian dan pelepasan hidrogen.
Dari persoalan tersebut, Gabriella mengusulkan penggunaan ZIF-8 sebagai alternatif material penyimpanan. Pengembangan tidak berhenti pada pemilihan material, tetapi diperluas dengan konsep tank swapping station yang terinspirasi dari mekanisme pertukaran baterai pada kendaraan listrik.
Konsep tersebut memungkinkan tangki hidrogen ditukar dengan tangki yang telah terisi, sehingga pengisian bahan bakar tidak harus dilakukan dengan menunggu proses pengisian tangki. Dalam pengembangannya, Gabriella turut mempertimbangkan aspek efisiensi energi, ketahanan mekanis material, serta kelayakan ekonomi dan potensi penerapan teknologi.
"Semoga kemenangan ini bisa menjadi langkah awal untuk mewujudkan ide yang saya kembangkan. Namun, bagi saya, kompetisi ini bukan semata-mata tentang menjadi pemenang, melainkan tentang bagaimana sebuah ide yang awalnya sederhana dan mungkin muncul secara acak bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang bermanfaat dan berkontribusi bagi masyarakat," ujar Gabriella, dikutip dalam laman Universitas Pertamina, Senin, 7 September 2026.
Baca Juga :

Gabriella Kuswandi, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Pertamina meraih Juara 1 Young Scientist Competition 2026. Foto: dok Universitas Pertamina.
Menjawab tantangan di sektor energi
Menurut Gabriella, ketertarikannya terhadap Metal-Organic Frameworks (MOFs) dan teknologi penyimpanan hidrogen menjadi awal pengembangan gagasan tersebut. Saat mengikuti kompetisi, pendekatan yang digunakan kemudian diperluas dengan mempertimbangkan aspek teknis sekaligus potensi penerapan dan kelayakan ekonominya.
Dalam proses pengembangan karya, Gabriella memperoleh dukungan dari dosen Universitas Pertamina, khususnya Agung Nugroho. Dukungan tersebut diberikan melalui diskusi serta akses terhadap berbagai referensi ilmiah yang membantu memperkuat landasan pengembangan gagasan.
Tantangan berikutnya muncul ketika Gabriella harus mempresentasikan gagasannya di hadapan juri dengan latar belakang yang beragam, mulai dari mahasiswa pascasarjana, praktisi, hingga akademisi. Proses tersebut menjadi kesempatan untuk menguji dan mendapatkan masukan terhadap gagasan yang dikembangkan.
Rektor Universitas Pertamina, Ichsan Setya Putra mengatakan pencapaian tersebut menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan gagasan ilmiah untuk menjawab tantangan di sektor energi.
"Prestasi Gabriella menunjukkan mahasiswa Universitas Pertamina mampu mengembangkan gagasan ilmiah menjadi inovasi yang relevan dengan tantangan energi masa depan. Pencapaian ini menjadi bagian dari semangat UPER Berdampak dalam mendorong mahasiswa menghasilkan karya yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki potensi manfaat bagi masyarakat," ujar Ichsan.
Setelah meraih penghargaan tersebut, Gabriella berencana mengembangkan gagasan menuju tahap prototipe. Tahap berikutnya akan mencakup pembelajaran mengenai sistem kendali, desain, dan optimasi storage vessel untuk mendukung pengembangan sistem penyimpanan hidrogen.
Pengembangan teknologi penyimpanan dan pemanfaatan hidrogen menjadi bagian dari upaya mendorong diversifikasi sumber energi serta pengembangan teknologi rendah emisi. Dari sisi transportasi, teknologi fuel cell electric vehicle menjadi salah satu alternatif kendaraan yang memanfaatkan hidrogen sebagai sumber energi.
Gagasan Gabriella juga berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia di bidang sains dan teknologi serta agenda pengembangan energi bersih. Inovasi tersebut antara lain sejalan dengan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau serta SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur.