AS Gunakan AI Claude untuk Serang Iran, Begini Cara Kerjanya

Ilustrasi Claude. (GK Images/Alamy)

AS Gunakan AI Claude untuk Serang Iran, Begini Cara Kerjanya

Riza Aslam Khaeron • 4 March 2026 16:01

Jakarta: Operasi militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran telah memasuki hari kelima. Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 tersebut telah berhasil menewaskan sejumlah pemimpin tinggi Iran, termasuk Pemimpin Agung Ayatullah Ali Khamenei.

Namun, salah satu aspek paling menarik dalam operasi militer bertajuk "Epic Fury" ini adalah keterlibatan Kecerdasan Buatan (AI) bernama Claude. Claude merupakan rangkaian model bahasa besar yang dikembangkan oleh Anthropic dan pertama kali dirilis pada tahun 2023.

Sebelumnya, ketergantungan administrasi Presiden Donald Trump terhadap teknologi AI memang telah beberapa kali menjadi sorotan publik.

Model AI Claude ini juga dilaporkan telah digunakan dalam operasi militer AS untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada bulan Januari lalu.

Menariknya, penggunaan Claude dalam serangan ke Iran ini terjadi hanya beberapa jam setelah konflik panjang antara Kementerian Pertahanan AS—yang sekarang disebut Departemen Perang—dengan CEO Anthropic, Dario Amodei, yang akhirnya mendorong Trump untuk memutus kontrak bernilai 200 juta USD antara kedua belah pihak.

Lantas apa yang menjadi akar permasalahan antara sang CEO dengan atasan militer negara adidaya tersebut? Berikut ulasannya.
 

Konflik dengan Departemen Perang AS


Logo Claude. (Istimewa)

Hubungan Anthropic dengan militer AS bermula dari kontrak besar yang diteken pada Juli 2025.

Melalui Chief Digital and Artificial Intelligence Office (CDAO), Pentagon menggelontorkan dana hingga 200 juta USD dalam perjanjian prototipe selama dua tahun kepada Anthropic—nilai yang sama juga diberikan kepada Google, xAI, dan OpenAI. Tujuannya adalah untuk mengadaptasi aplikasi AI generatif mereka demi kebutuhan militer.

Namun, menurut laporan bulan Januari di Wall Street Journal (WSJ), kebijakan Anthropic yang melarang penggunaan Claude dalam program persenjataan atau pengawasan telah menciptakan keretakan dengan Pentagon.

WSJ juga melaporkan bahwa setidaknya satu instansi Claude digunakan untuk membantu merencanakan penggerebekan yang menangkap pemimpin kuat Venezuela, Nicolas Maduro.

Dalam laporan WSJ mengenai penggerebekan Maduro tersebut, juru bicara Anthropic menolak untuk membahas operasi spesifik itu tetapi mengatakan, “Setiap penggunaan Claude—baik di sektor swasta maupun di seluruh pemerintahan—wajib mematuhi Kebijakan Penggunaan kami, yang mengatur bagaimana Claude dapat diterapkan.”

Kebijakan-kebijakan tersebut melarang penggunaan AI untuk “memproduksi, memodifikasi, merancang, atau memperoleh senjata secara ilegal” atau untuk “melacak lokasi fisik, keadaan emosional, atau komunikasi seseorang tanpa persetujuan mereka, termasuk menggunakan produk kami untuk... aplikasi manajemen medan perang.” .

Menjelang serangan AS ke Iran, Pentagon bersikeras agar perusahaan tersebut mencabut pembatasannya agar militer dapat menggunakan model tersebut untuk “semua penggunaan yang sah.”

Namun, Anthropic memiliki kekhawatiran atas dua masalah yang tidak bersedia mereka lepaskan: Senjata yang dikendalikan AI dan pengawasan domestik massal terhadap warga Amerika.


Penangkapan Nicolas Maduro, 5 Januari 2026. (XNY/Star Max/GC Images)

Anthropic meyakini bahwa AI belum cukup andal untuk mengoperasikan senjata, dan belum ada hukum atau peraturan yang mengatur bagaimana AI dapat digunakan dalam pengawasan massal.

“Kami mendukung penggunaan AI untuk misi intelijen asing dan kontra-intelijen yang sah. Namun, menggunakan sistem ini untuk pengawasan domestik massal tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi. Pengawasan massal yang digerakkan oleh AI menghadirkan risiko baru yang serius bagi kebebasan fundamental kita,” ucap Amodei dalam pernyataannya pada 26 Februari 2026.

“Senjata otonom sebagian, seperti yang digunakan saat ini di Ukraina, sangat penting bagi pertahanan demokrasi. Bahkan senjata yang sepenuhnya otonom (yang mengeluarkan manusia dari kendali sepenuhnya dan mengotomatisasi pemilihan serta keterlibatan target) mungkin terbukti kritis bagi pertahanan nasional kita. Namun saat ini, sistem AI terdepan tidaklah cukup andal untuk mentenagai senjata yang sepenuhnya otonom. Kami tidak akan dengan sengaja menyediakan produk yang membahayakan pejuang dan warga sipil Amerika,” tegasnya.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth kemudian memberikan tenggat waktu kepada Anthropic untuk memenuhi tuntutan Pentagon hingga Jumat, 28 Februari 2026. Namun, Anthropic tetap teguh pada pendirian mereka.

Tepat pada hari tenggat waktu tersebut, Trump mengumumkan pada hari Jumat bahwa ia menginstruksikan setiap agen federal untuk “segera menghentikan” penggunaan alat AI milik Anthropic. Langkah ini dilakukan setelah Anthropic dan pejabat tinggi bentrok selama berminggu-minggu terkait aplikasi militer dari kecerdasan buatan.

"Orang-orang gila sayap kiri di Anthropic telah membuat kesalahan fatal dengan mencoba menekan Departemen Perang," ujar Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Di hari yang sama, Pentagon membuat kesepakatan dengan OpenAI, pengembang ChatGPT.

CEO Sam Altman mengumumkan pada Jumat malam bahwa perusahaan tersebut telah menandatangani kesepakatan dengan Pentagon agar alat AI miliknya dapat digunakan dalam sistem rahasia militer, namun dengan batasan yang tampaknya serupa dengan yang diminta oleh pesaingnya, Anthropic.
 
Baca Juga:
AS Disebut Berencana Persenjatai Kurdi Iran Guna Picu Pemberontakan
 

Serangan AS ke Iran Menggunakan Claude


Pengeboman Teheran, 1 Maret 2026. (Fatemeh Bahrami/Anadolu)

Berjam-jam setelah kontrak Claude diputus, Model AI tersebut dilaporkan digunakan Washington dalam serangan gabungan dengan Israel di Iran yang menargetkan infrastruktur-infrastruktur militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan pemimpin-pemimpinnya termasuk petinggi Ayatullah Ali Khamenei.

Menurut laporan tersebut, militer AS menggunakan Claude untuk membantu berbagai proses analisis dalam operasi tersebut. 

Sistem AI tersebut digunakan untuk menilai intelijen militer, mengidentifikasi target potensial, serta mensimulasikan berbagai skenario pertempuran sebelum serangan dilakukan.

Dengan kemampuan analisis data dalam jumlah besar, Claude memungkinkan militer memproses informasi intelijen dengan jauh lebih cepat dibanding metode konvensional.

Serangan tersebut terbilang sukses, Khamenei tewas bersama tujuh anggota pimpinan keamanan tertinggi Iran yang sedang berkumpul di beberapa lokasi di Teheran, serta sekitar selusin anggota keluarga dan lingkaran terdekatnya dalam serangan yang terjadi hampir bersamaan dalam waktu 60 detik.

Perang yang bermula dari serangan di Iran tersebut kini telah meluas ke Lebanon dan negara-negara Teluk Arab. Layanan darurat Bulan Sabit Merah Iran melaporkan pada hari Senin bahwa lebih dari 787 orang telah tewas di Iran sejak awal peperangan.
 

Popularitas Claude Meningkat Setelah Putus Kontrak

Ironisnya, popularitas Claude justru melonjak tajam setelah pemerintah Amerika Serikat secara resmi memutus kerja sama dengan Anthropic, imbas operasi militer yang dianggap ilegal oleh berbagai pihak..

Claude justru mengalami lonjakan popularitas hanya sehari setelah Pentagon melirik ChatGPT sebagai pengganti Claude. Melansir The Guardian, aplikasi Claude bahkan sempat menjadi aplikasi gratis nomor satu di Apple App Store di Amerika Serikat pada 3 Maret 2026, menggeser ChatGPT dari posisi teratas. Di Inggris dan beberapa negara lain, peringkat Claude juga naik pesat baik di perangkat iPhone maupun Android.

Lonjakan pengguna tersebut membuat layanan Claude sempat mengalami gangguan teknis akibat tingginya trafik. Perusahaan Anthropic melaporkan adanya permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan lebih dari 1.400 laporan gangguan layanan muncul dalam satu waktu sebelum akhirnya sistem kembali stabil.

Di lain pihak, OpenAI terpaksa mengubah kesepakatan dengan Pentagon setelah mendapatkan kecaman publik dan gerakan boikot yang menggema di media sosial. CEO OpenAI, Sam Altman, terpaksa meluncurkan perjanjian yang telah dikerjakan ulang dengan Pentagon pada Senin malam yang mengatur penggunaan layanan AI oleh Departemen Pertahanan. Ia menyatakan bahwa perjanjian tersebut memberikan jaminan yang lebih kuat bahwa militer tidak akan menggunakan sistem OpenAI untuk pengawasan domestik.

“Sangat penting untuk melindungi kebebasan sipil warga Amerika,” tulis Altman dalam sebuah unggahan di X pada Senin malam saat mengumumkan bahasa kontrak baru yang menurutnya lebih baik dalam membatasi pengawasan domestik.

“Departemen juga menegaskan bahwa layanan kami tidak akan digunakan oleh agen intelijen Departemen Perang (misalnya, NSA),” katanya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)