Sekretaris Jenderal Babasheikh Hosseini. (NCRI)
Pemimpin Kurdi Iran Sebut Potensi Invasi ke Iran 'Sangat Mungkin'
Riza Aslam Khaeron • 8 March 2026 11:04
Jakarta: Seorang pemimpin kelompok nasionalis Kurdi Iran yang berbasis di wilayah Kurdistan Irak utara menyatakan bahwa operasi darat lintas batas ke Iran "sangat mungkin" akan segera dilakukan. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan serangan balasan yang dilancarkan Iran ke wilayah tersebut.
Melansir laporan Al Jazeera yang dipublikasikan pada Sabtu, 7 Maret 2026, Babasheikh Hosseini, Sekretaris Jenderal Organisasi Khabat Kurdistan Iran, mengungkapkan bahwa meskipun belum ada operasi saat ini, namun Amerika Serikat telah melakukan kontak dengan kelompoknya.
"Kami telah merencanakan sejak lama, dan sekarang kondisi lebih menguntungkan, ada kemungkinan besar untuk bertindak," ujar Hosseini kepada Al Jazeera dari wilayah Kurdistan.
"Kami belum mencapai keputusan final, tetapi kemungkinan besar kami akan melanjutkan dengan operasi darat," tambah pemimpin oposisi Kurdi tersebut.
Hosseini juga mengonfirmasi bahwa pihaknya telah dihubungi oleh Amerika.
"Orang Amerika telah menghubungi kami melalui berbagai saluran, tetapi sampai sekarang kami belum bertemu langsung—namun mereka menghubungi kami," katanya.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah pemerintah Irak dan Pemerintah Regional Kurdistan sepakat bahwa Irak tidak boleh dijadikan landasan peluncuran serangan terhadap negara tetangga.
Perdana Menteri Irak Mohammed Shia al-Sudani dan Presiden Kurdistan Nechirvan Barzani dalam panggilan telepon pada Jumat sepakat "bahwa wilayah Irak tidak boleh digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap negara-negara tetangga,".
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu pagi mengumumkan telah menyerang "kelompok separatis" di wilayah Kurdistan Irak.
"Tiga lokasi kelompok separatis di wilayah Irak (Kurdistan) dihantam... pagi ini," demikian pernyataan IRGC yang dibawa oleh kantor beriita Tasnim.
"Jika kelompok separatis di wilayah (Kurdistan) melakukan gerakan apa pun yang mengancam integritas teritorial Iran, kami akan menghancurkan mereka," kata IRGC.
Serangan udara Iran ini dilaporkan terjadi setelah berminggu-minggu Israel membombardir bagian barat Iran untuk mendukung pejuang Kurdi Iran. Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan Israel dengan faksi-faksi tersebut mengungkapkan hal ini kepada Reuters.
| Baca Juga: AS Disebut Berencana Persenjatai Kurdi Iran Guna Picu Pemberontakan |
Trump Berubah Sikap
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya pada Jumat malam, 7 Maret 2026, justru mengubah sikapnya terkait keterlibatan Kurdi. Mengutip The Times of Israel, Trump mengatakan kepada wartawan di Air Force One bahwa ia tidak ingin pejuang Kurdi dari Irak bergabung dalam perang melawan Iran."Saya tidak ingin Kurdi masuk ke Iran... Mereka bersedia masuk, tapi saya sudah bilang saya tidak ingin mereka masuk... Perang ini sudah cukup rumit... Kami tidak ingin melihat Kurdi terluka atau terbunuh," ujar Trump.
Pernyataan ini kontras dengan komentarnya sehari sebelumnya yang menyebut akan "sangat mendukung" jika Kurdi menyeberang ke Iran. Trump juga menegaskan bahwa AS tidak tertarik mencapai penyelesaian dengan Iran dan ingin memilih pemimpin Iran berikutnya untuk memastikan mereka tidak akan memimpin negara itu ke dalam perang.
Di tengah ketegangan ini, serangan drone dilaporkan melanda sejumlah fasilitas di Irak pada Jumat malam. Bandara Internasional Baghdad yang menjadi markas fasilitas militer dan diplomatik AS "mendapat serangkaian serangan" dengan drone dan rudal.
Di provinsi Basra selatan, fasilitas minyak Burjesia yang menampung perusahaan energi asing juga diserang dua kali, dengan satu drone berhasil menerobos pertahanan dan menghantam lokasi tersebut.