BMKG: Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Alami Hari Tanpa Hujan hingga 60 Hari

Ilustrasi hujan. Foto: Media Indonesia (MI)/Ramdani.

BMKG: Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Alami Hari Tanpa Hujan hingga 60 Hari

Lukman Diah Sari • 17 June 2026 22:44

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Hari Tanpa Hujan (HTH) telah terjadi di sebagian besar wilayah selatan Indonesia. Kategori HTH mulai dari menengah hingga sangat panjang. 

"Wilayah yang mengalami HTH meliputi Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Periode tanpa hujan tercatat berada pada kategori menengah, yakni 11-20 hari, hingga sangat panjang yang mencapai 31-60 hari," kata BMKG dalam laman resmi, Rabu, 17 Juni2 2026.

Kondisi itu sejalan dengan perkembangan musim kemarau di Indonesia. Tercatat sebanyak 33,3 persen wilayah Zona Musim (ZOM) atau 233 ZOM telah memasuki musim kemarau.

Situasi tersebut, menurut BMKG, menunjukkan pengurangan curah hujan mulai meluas dan perlu menjadi perhatian, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kekeringan meteorologis, penurunan ketersediaan air, serta peningkatan potensi suhu udara yang terasa lebih panas pada siang hari dan lebih dingin pada malam hingga pagi hari.

"Meski kondisi kering semakin mendominasi wilayah Indonesia bagian selatan, sejumlah wilayah di Indonesia bagian utara masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat," ungkap BMKG.


Ilustrasi kekeringan. (MGN/Nur Soli)

BMKG mengungkap periode 11-14 Juni 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di sejumlah wilayah. Curah hujan tertinggi terjadi di Sumatra Barat mencapai 139 milimeter per hari, disusul Papua 94 milimeter per hari, Riau 89 milimeter per hari, Sulawesi Utara 79 milimeter per hari, Kalimantan Barat 77 milimeter per hari, dan Sulawesi Barat 63 milimeter per hari.

"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra," kata BMKG.

Selain itu, adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra dan di sekitar Selat Makassar turut mendukung terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin, terutama di sebagian wilayah Sumatra dan sekitarnya. Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan.

"Meskipun Indonesia telah memasuki musim kemarau, potensi hujan masih perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer, konvergensi, dan belokan angin," ucap BMKG.

(Lukman Diah Sari)