Mengenal Tren Sleep Tourism, Cara Baru Menikmati Liburan Lebih Santai

Ilustrasi: Freepik

Mengenal Tren Sleep Tourism, Cara Baru Menikmati Liburan Lebih Santai

14 September 2026 23:00

Jakarta: Liburan biasanya menjadi kesempatan untuk melepas penat dari rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Banyak orang memilih bepergian untuk mencari suasana baru sekaligus memberi waktu bagi tubuh untuk beristirahat.

Namun, tidak semua wisatawan ingin menghabiskan waktu liburan dengan jadwal yang padat. Tren perjalanan kini mulai mengarah pada pengalaman yang lebih santai dengan fokus pada pemulihan tubuh dan kualitas istirahat.

Perubahan gaya berlibur ini turut mendorong munculnya berbagai layanan yang dirancang untuk membuat wisatawan merasa lebih nyaman selama menginap. Sejumlah hotel dan resor bahkan mulai menghadirkan fasilitas serta program yang mendukung kebutuhan tidur para tamunya.

Tren tersebut dikenal sebagai sleep tourism dan mulai menjadi bagian dari perkembangan wisata berbasis wellness. Lantas, apa yang membuat tren ini semakin diminati wisatawan? Simak penjelasannya.

Apa itu Tren Travel Sleep Tourism?

Mengutip Novotel, sleep tourism merupakan perjalanan yang secara khusus dilakukan untuk meningkatkan kualitas tidur. Artinya, waktu istirahat bukan lagi sekadar bagian dari perjalanan, tetapi menjadi alasan utama seseorang memilih destinasi dan tempat menginap.

Hotel yang menawarkan pengalaman tersebut biasanya menyediakan fasilitas untuk menciptakan kondisi tidur yang nyaman. Beberapa diantaranya berupa tirai yang dapat menghalangi cahaya, kamar kedap suara dan kasur yang disesuaikan dengan kebutuhan tamu.

Sejumlah penginapan juga menawarkan paket khusus selama beberapa hari bagi wisatawan yang ingin berfokus pada pemulihan tubuh. Layanannya dapat mencakup konsultasi dengan sleep coach, meditasi terpandu, latihan pernapasan hingga pemantauan tidur menggunakan teknologi.

Selain fasilitas di dalam kamar, beberapa hotel melengkapi pengalaman tersebut dengan layanan wellness. Terapi kesehatan, perawatan tubuh dan sesi spa menjadi bagian yang ditawarkan untuk membantu tamu mendapatkan waktu istirahat yang lebih berkualitas.

Ilustrasi. Dok Freepik.

Mengapa Sleep Tourism Semakin Diminati?

Meningkatnya minat terhadap sleep tourism berkaitan dengan gaya hidup yang membuat banyak orang kesulitan mendapatkan waktu tidur yang cukup. Tekanan pekerjaan, aktivitas sehari-hari hingga kebiasaan bekerja sampai larut malam membuat kebutuhan untuk beristirahat semakin diperhatikan.

Gangguan tidur dan insomnia terus menjadi persoalan di berbagai negara. Sekitar sepertiga orang dewasa di dunia dilaporkan mengalami kesulitan tidur, sementara jumlah yang sama dari masyarakat Amerika Serikat tidak mendapatkan waktu tidur yang direkomendasikan, yakni tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Kualitas tidur juga memiliki kaitan dengan berbagai fungsi tubuh, mulai dari sistem kekebalan, kejernihan pikiran dan pengaturan emosi hingga kesehatan jantung. Kondisi tersebut membuat sebagian wisatawan melihat perjalanan sebagai kesempatan untuk memulihkan tubuh dari kurang tidur, bukan hanya untuk mencari suasana baru.

Destinasi yang cocok untuk sleep tourism umumnya menawarkan suasana tenang dengan sedikit gangguan dari aktivitas sekitar. Pilihannya dapat berupa resor yang berada di kawasan pantai terpencil, wilayah dataran tinggi, area hutan, penginapan di tepi perairan yang tenang atau tempat yang jauh dari keramaian dan pesta.

Lingkungan dengan rangsangan yang minim serta suasana alam yang nyaman dinilai lebih mendukung kebutuhan istirahat selama perjalanan. Karena itu, lokasi yang jauh dari kebisingan dan aktivitas padat menjadi salah satu pertimbangan penting bagi wisatawan yang mengikuti tren ini.

Perjalanan Juga Bisa Mengganggu Kualitas Tidur

Meski perjalanan ditujukan untuk beristirahat, aktivitas bepergian justru dapat mengubah pola tidur seseorang. Perbedaan zona waktu, kondisi lingkungan baru dan tekanan selama perjalanan dapat membuat tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Salah satu gangguan yang paling sering terjadi yakni jet lag, terutama ketika seseorang melewati beberapa zona waktu. Semakin banyak zona waktu yang dilewati, gangguan tersebut cenderung semakin terasa, dengan perjalanan ke arah timur umumnya menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan perjalanan ke arah barat.

Kondisi lingkungan di tempat baru juga dapat mempengaruhi waktu tidur. Suara yang tidak familiar, pencahayaan berbeda dan suhu kamar yang tidak sesuai dengan kebiasaan dapat membuat seseorang lebih sulit beristirahat.

Stres selama perjalanan turut menjadi faktor lain yang dapat mengganggu tidur. Kesulitan mencari lokasi, perubahan jadwal dan suasana yang jauh dari lingkungan sehari-hari dapat meningkatkan kadar kortisol serta mempengaruhi proses alami tubuh untuk tidur.

Agar tetap mendapatkan waktu istirahat yang cukup saat bepergian, berikut hal-hal sederhana yang dapat dilakukan:
  • Menjaga jadwal tidur tetap konsisten jika memungkinkan, termasuk ketika bepergian melewati zona waktu berbeda.
  • Datang satu hari lebih awal ke destinasi untuk memberikan waktu bagi tubuh menyesuaikan diri dengan waktu setempat.
  • Membawa barang yang biasa digunakan sebelum tidur, seperti bantal kesayangan atau sleep mask, agar suasana terasa lebih familiar.
  • Menghindari makanan berat, kafein dan alkohol menjelang waktu tidur serta tetap menjaga asupan cairan.
  • Membuat rutinitas sebelum tidur, seperti melakukan peregangan ringan, membaca atau meditasi untuk membantu tubuh bersiap beristirahat.
(Angel Rinella)

(Arga Sumantri)