Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan
BRT Bandung Akan Hadir, Pemkot Siapkan Integrasi dengan Angkot
Roni Kurniawan • 14 September 2026 15:32
Bandung: Pemerintah Kota Bandung menilai pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) akan membawa perubahan pada pola mobilitas masyarakat. Meski pelaksanaannya menghadapi sejumlah tantangan, sistem transportasi tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi warga dalam jangka panjang.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan proses pembangunan BRT tidak terlepas dari berbagai masukan dan kekhawatiran masyarakat. Menurutnya, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar karena kehadiran BRT akan membawa perubahan pada sistem transportasi dan tata ruang jalan di Kota Bandung.
"BRT ini memang pilihan yang harus kita pilih. Dari sejak awal sebelum saya dilantik saya sudah mendapatkan BRT ini dan saya sudah keliling berkali-kali jalur BRT," kata Farhan di Balai Kota Bandung, Senin 14 September 2026.
Farhan memahami masih terdapat warga yang mempertanyakan efektivitas dan aspek keselamatan dari konsep halte tersebut. Namun, ia menilai penerapan sistem transportasi baru membutuhkan proses agar masyarakat dapat beradaptasi dan manfaatnya bisa dirasakan secara optimal.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan
"Memang agak susah membayangkan bahwa di tengah Jalan Cicadas, Jalan Jakarta, sampai wilayah Ciroyom dan Pasar Baru akan ada halte-halte di tengah jalan. Perdebatan tentu tidak pernah berhenti, namun bagaimanapun juga pilihannya tetap dilaksanakan," jelas Farhan.
Menurut Farhan konsep BRT Bandung merupakan bagian dari program yang disusun bersama Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Pemkot Bandung pun terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menampung aspirasi masyarakat dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang mungkin muncul selama pembangunan.
"Kami akan terus menyerap berbagai macam aspirasi dari masyarakat tentang ketidaknyamanan akibat dari BRT ini," ungkap Farhan.
Pada tahap awal, koridor BRT Bandung akan melayani jalur timur-barat yang menghubungkan sejumlah pusat aktivitas masyarakat. Rute tersebut dimulai dari Kiaracondong menuju Alun-alun Bandung, kemudian berlanjut ke kawasan Stasiun Selatan, Jalan Kebonjati, Otista, Tegalega dan kembali menuju koridor timur.
Kehadiran BRT nantinya juga diperkirakan mendorong perubahan pola perjalanan masyarakat. Untuk mendukung perpindahan penumpang, Pemkot Bandung menyiapkan sistem feeder yang terintegrasi dengan layanan utama BRT.
Feeder tersebut akan memanfaatkan angkutan kota yang selama ini menjadi bagian dari transportasi masyarakat Bandung. Armada angkot akan diarahkan melalui skema peremajaan agar layanan menjadi lebih nyaman dan dapat mendukung sistem transportasi yang terintegrasi.
"Feeder ini adalah angkot-angkot yang selama ini kita kenal. Akan ada peremajaan angkot dan mudah-mudahan kita bisa segera mendapatkan kesepakatannya untuk angkot yang baru," bebernya.
Selain integrasi dengan angkot, Pemkot Bandung juga masih menunggu realisasi layanan angkutan umum menuju Bandara Husein Sastranegara. Layanan tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas transportasi publik di Kota Bandung.
Farhan memastikan pembangunan halte di tengah jalan tetap berjalan karena konsep tersebut merupakan bagian dari desain dasar BRT yang telah ditetapkan.
"Kalau pembangunan halte yang di tengah itu tetap akan berlanjut. Itu bagian dari konsep, saya tidak bisa melawan karena bagaimanapun juga itu bagian dari desain BRT," ujar Farhan.