Ilustrasi. Foto: dok MI/Ramdani.
Apa Arti Turunnya Kewajiban Neto PII Indonesia ke USD227,6 Miliar? Ini Penjelasan BI
Ade Hapsari Lestarini • 10 June 2026 15:21
Jakarta: Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi investasi internasional (PII) Indonesia pada triwulan I-2026 mencatat kewajiban neto yang menurun menjadi USD227,6 miliar, dari posisi sebesar USD273,4 miliar pada akhir triwulan IV-2025.
"Kewajiban neto yang menurun dipengaruhi oleh penurunan posisi kewajiban finansial luar negeri (KFLN) yang lebih dalam dari penurunan posisi aset finansial luar negeri (AFLN)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 10 Juni 2026.
Lebih lanjut, posisi AFLN Indonesia menurun terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi cadangan devisa sejalan dengan kebutuhan valas untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Posisi AFLN pada akhir triwulan I-2026 tercatat sebesar USD556,7 miliar, turun 0,4 persen (quarter to quarter/qtq) dari USD559,1 miliar pada akhir triwulan IV-2025.
Penurunan posisi AFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga aset dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap beberapa mata uang negara penempatan aset, di tengah meningkatnya posisi aset investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.

Ilustrasi Gedung BI. Foto: dok MI/Ramdani.
Posisi KFLN Indonesia menurun
Di sisi lain, posisi KFLN Indonesia menurun di tengah aliran masuk modal asing pada investasi langsung dan investasi portofolio yang tetap terjaga. Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan I-2026 tercatat sebesar USD784,3 miliar, turun sebesar 5,8 persen (quarter to quarter/qtq) dari USD832,6 miliar pada akhir triwulan IV-2025.
Penurunan tersebut terutama bersumber dari pelemahan nilai instrumen keuangan domestik di tengah kinerja investasi langsung yang tetap membukukan surplus yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Posisi investasi portofolio dan investasi lainnya menurun sejalan dengan pembayaran surat utang sektor swasta dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo. Selain itu, posisi KFLN juga dipengaruhi oleh pelemahan harga saham dan penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
BI memandang perkembangan PII Indonesia pada triwulan I-2026 tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan eksternal. Hal ini tecermin dari rasio PII Indonesia terhadap PDB pada triwulan I-2026 sebesar 15,5 persen, lebih rendah dibandingkan 18,9 persen pada triwulan IV-2025. Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang (92,5 persen) terutama dalam bentuk investasi langsung.
BI menyatakan ke depan, pihaknya senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek PII Indonesia dan terus memperkuat respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal. Selain itu, BI akan terus memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian.