Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier. Foto: Kedubes Jerman/Guido Bergman
Perdagangan, Investasi Hingga Transisi Energi Perkuat Kerja Sama Indonesia-Jerman
Fajar Nugraha • 16 June 2026 18:37
Jakarta: Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyambut Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier pada 15 Juni 2026 di Istana Merdeka, Jakarta.
Kedua Kepala Negara bertukar pandangan mengenai pendalaman hubungan politik dan budaya, penguatan hubungan ekonomi lebih lanjut, serta mempercepat transisi Indonesia ke energi terbarukan bersama-sama.
Di Istana Merdeka Frank-Walter Steinmeier, Presiden Republik Federal Jerman mengucapkan apresiasinya atas hubungan bilateral yang sangat erat:
“Ada alasan yang sangat kuat yang membuat saya kembali lagi ke sini pada hari ini. Di mana dunia tampaknya sedang terpecah belah dan ketidak percayaan, politik kekuasaan dan kekerasan sedang meningkat di banyak tempat; Kemitraan yang dapat dipercaya antara Indonesia dan Jerman – dua negara yang tunduk akan hukum internasional – menjadi suatu hal yang lebih penting,” ujar Ralf Beste, Duta Besar Jerman untuk Indonesia dalam keterangan Kedutaan Besar Federasi Jerman untuk Indonesia.
“Saya sangat senang, bahwa kami sama-sama menyetujui atas penguatan kemitraan dan tidak hanya dalam tingkat politik, tetapi juga di bidang ekonomi, tenaga kerja ahli, iklim, sains dan kebudayaan,” kata Dubes Beste.
Ralf Beste, Duta Besar Jerman untuk Indonesia menyatakan “Jerman dan Indonesia mempererat hubungan bilateral di tengah perubahan pesat dalam tatanan dunia. Dengan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (I-EU CEPA), kami memperkirakan akan terjadi peningkatan ekspor dan investasi dua arah: ke Jerman dan Indonesia.”
“Lonjakan harga minyak dan gas global yang terbaru juga menunjukkan bahwa kita memerlukan transisi ke energi terbarukan tidak hanya untuk melindungi iklim, tetapi juga untuk menjamin ketahanan energi. Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan atau Just Energy Transition Partnership/JETP yang dipimpin bersama oleh kedua negara kami juga berkontribusi kepada hal ini,” ucap Dubes Reste.
Belakangan ini dua perjanjian keuangan antara Indonesia dan lembaga-lembaga Jerman telah disepakati. Perjanjian-perjanjian ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi guna meningkatkan perdagangan dan investasi serta mempercepat transisi ke energi terbarukan secara adil. Perjanjian yang pertama menitikberatkan perbaikan kondisi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi dengan nilai sebesar 400 juta euro.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Bank Pembangunan Jerman KfW serta Kementerian Keuangan Indonesia, di bawah Program Daya Saing, Modernisasi Industri, dan Percepatan Perdagangan (Competitiveness, Investment, and Trade Acceleration/CITA). Program ini dirancang untuk mendukung agenda reformasi ekonomi Indonesia menuju pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, sesuai dengan standar perdagangan dan investasi internasional.
Reformasi ini akan berfokus pada tiga bidang utama: Pertama, menciptakan lingkungan bisnis yang ramah investasi; Kedua, mengurangi hambatan perdagangan; Ketiga, meningkatkan pertumbuhan bisnis dan pengembangan skala usaha.
Perjanjian yang kedua mendukung pembangunan pembangkit listrik terbarukan dan jaringan listrik dengan nilai sebesar USD302 juta. Perjanjian ini ditandatangani oleh KfW dan PT PLN (Persero), di bawah naungan Program Mempercepat Transisi Energi Bersih Indonesia (Accelerating Indonesia’s Clean Energy Transition).
Program ini dirancang untuk mempercepat transisi energi Indonesia dengan mendorong integrasi pengembangan energi terbarukan melalui peningkatan infrastruktur jaringan listrik serta ekspansi tenaga surya dan angin, sekaligus memastikan penerapan jaminan lingkungan dan transisi yang adil bagi semua pemangku kepentingan.
Program ini merupakan kontribusi Jerman terhadap Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan (JETP) dengan Indonesia, di mana Jerman telah mengambil alih kepemimpinan bersama Kelompok Mitra Internasional (International Partners Group/IPG) bersama Jepang, sejak awal tahun 2025. Jerman telah berkomitmen untuk mengalokasikan dana yang totalnya sekitar 1 miliar euro untuk kerja sama pembangunan pada tahun 2026, yang setara dengan sekitar Rp20 triliun.
Pada Februari 2026, dua perjanjian keuangan lainnya telah disetujui dan disaksikan oleh Kementerian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, serta Direktur Jenderal untuk Asia, Eropa Tenggara dan Timur, Timur Tengah, dan Amerika Latin dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (BMZ), Christine Toetzke. Perjanjian tersebut terkait dengan proyek Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) dengan total nilai 308 juta euro.
Proyek Green Energy Corridors Sulawesi (GECS) akan membangun saluran transmisi 275kV melintasi Sulawesi Selatan untuk membuka potensi energi terbarukan yang luas di wilayah tersebut.
Sementara itu, Green Bond Development Facility (GBDF) memperkuat pasar obligasi hijau Indonesia untuk menarik investasi berkelanjutan. Bersama-sama, inisiatif-inisiatif ini menandai pencapaian penting dalam implementasi JETP, yang mewujudkan komitmen kemitraan menjadi tindakan konkret dan kemajuan yang terukur menuju masa depan energi bersih Indonesia.