Angkatan Bersenjata Burkina Faso mengumumkan halau serangan terkoordinasi dari milisi. Foto: Anadolu
Burkina Faso Klaim Tewaskan 400 Milisi Bersenjata Usai Serangan Markas Militer
Fajar Nugraha • 2 July 2026 11:21
Ouagadougou: Angkatan Bersenjata Burkina Faso mengumumkan pada Rabu, 1 Juli, bahwa mereka berhasil menghalau serangkaian serangan terkoordinasi oleh kelompok milisi bersenjata di beberapa pos militer pada 30 Juni lalu.
Pihak militer mengklaim sedikitnya 400 penyerang tewas dalam operasi serangan balik yang didukung oleh jet tempur tersebut.
Melalui rilis resmi yang dikeluarkan pada Rabu malam, Staf Umum Angkatan Bersenjata merinci bahwa serangan milisi tersebut menyasar posisi Angkatan Bersenjata Nasional (FAN) serta pangkalan Sukarelawan untuk Pertahanan Tanah Air (VDP). Insiden ini terjadi secara simultan di wilayah Gayeri (Region Sirba), serta wilayah Solhan dan Sebba (Region Liptako).
Menurut keterangan pihak militer, unit pasukan darat yang didukung oleh aset kekuatan udara langsung merespons serangan tersebut di lokasi kejadian. Operasi gabungan ini diklaim sukses melumpuhkan ratusan milisi serta mengamankan berbagai macam barang bukti sitaan.
"Serangan udara terarah dan pertempuran darat berhasil menetralisir lebih dari 400 teroris," tulis pernyataan resmi militer Burkina Faso, seperti dikutip Anadolu, pada Kamis, 2 Juli 2026.
Selain menewaskan ratusan penyerang, militer juga menyita lebih dari 250 unit sepeda motor, 353 pucuk senjata berbagai kaliber, pasokan amunisi, serta sejumlah alat komunikasi milik kelompok tersebut.
Di sisi lain, pihak tentara melaporkan adanya korban jiwa dari pihak keamanan, di mana tiga personel mereka dinyatakan gugur dalam pertempuran tersebut, dengan rincian dua prajurit tewas di Solhan dan satu prajurit di Gayeri.
Pihak komando militer menegaskan bahwa operasi pembersihan wilayah saat ini masih terus berjalan dan kian diintensifkan guna memburu para pelaku yang melarikan diri ke dalam hutan, sekaligus menjamin keamanan warga sipil. Militer juga mengimbau masyarakat untuk kooperatif dan segera melaporkan pergerakan individu yang mencurigakan.
Dalam penutup rilisnya, militer Burkina Faso mengaitkan serangan terkoordinasi ini dengan keputusan politik pemerintah mereka sehari sebelumnya yang resmi memutus hubungan diplomatik dengan Prancis.
Otoritas militer menuduh Paris berada di balik dukungan terhadap kelompok-kelompok bersenjata tersebut, meskipun tuduhan serius itu dilayangkan dalam draf pernyataan tanpa menyertakan bukti-bukti konkret.
(Kelvin Yurcel)