NCC 2026 Dorong Penguatan Ketahanan Siber Nasional di Era AI

Pembukaan The 5th National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 di Jakarta. Istimewa.

NCC 2026 Dorong Penguatan Ketahanan Siber Nasional di Era AI

Arga Sumantri • 28 October 2026 21:49

Jakarta: Kegiatan The 5th National Cybersecurity Connect (NCC) 2026 resmi dibuka. Forum ini mempertemukan pemimpin pemerintahan, perwakilan industri, pakar keamanan siber, dan penyedia teknologi untuk memperkuat ketahanan siber Indonesia di tengah meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dan ancaman digital yang semakin kompleks.

Forum yang berlangsung pada 28-29 Oktober 2026 ini mengusung tajuk “Securing Trust and Resilience in the Age of AI-Driven Digital Transformation”. NCC 2026 menjadi platform dialog lintas sektor, berbagi pengetahuan, dan kolaborasi untuk memperkuat kesiapan keamanan siber nasional.

Direktur Utama PT Naganaya Indonesia International, Aditya Adiguna, mengatakan bahwa edisi kelima ini menegaskan kebutuhan akan ruang khusus untuk kolaborasi keamanan siber. Ia mengatakan di era transformasi digital berbasis AI, kepercayaan dan ketahanan hanya bisa dibangun bila pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas duduk bersama.

"Melalui NCC 2026, kami ingin menghadirkan ruang tersebut agar strategi keamanan siber dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata," ujar Aditya di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.

Ketua Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Aptiknas) Soegiharto Santoso menekankan peran industri TIK dalam membangun ekosistem siber yang tepercaya. Industri TIK berada di garis depan transformasi digital, sehingga keamanan siber harus menjadi bagian dari setiap layanan dan solusi yang kami hadirkan.

"Melalui NCC, Aptiknas ingin memperkuat kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas agar ekosistem digital Indonesia semakin aman dan tangguh di era AI," ujar Soegiharto.

Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharudin dalam pembukaan NCC 2026. Dok Istimewa.

Kepercayaan Jadi Fondasi Layanan Digital Nasional

Sementara itu, Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Addin Jauharudin, menyoroti peran generasi muda dalam menjaga ruang digital. Ia menekankan keamanan siber bukan hanya urusan teknis, tetapi juga soal melindungi masyarakat. 

"Sebagai organisasi kepemudaan, kami ingin generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga turut menjaga ruang digital agar tetap aman, beretika, dan dipercaya," ujar Addin.

Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko PERURI, Farah Fitria Rahmayanti mengungkapkan kepercayaan digital menjadi fondasi layanan digital nasional. Peruri berkomitmen mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2023 dengan memperkuat layanan yang menjaga keaslian, keamanan, dan keandalan transaksi di ruang digital.

Staf Ahli Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Wijaya Kusumawardhana menegaskan pentingnya ruang digital yang aman seiring percepatan pemanfaatan AI. Menurut dia, pemanfaatan AI harus berjalan beriringan dengan ruang digital yang aman dan tepercaya. 

"Pemerintah mendorong kolaborasi lintas sektor agar masyarakat dan pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi digital dengan rasa aman," ujar Wijaya.

Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Muhammad Neil El Himam menyebut kepercayaan digital menjadi modal penting bagi pelaku ekonomi kreatif. Ketika karya, data, dan transaksi terlindungi, pelaku kreatif dapat berinovasi dan tumbuh dengan lebih percaya diri di era AI.”

Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Sulistyo, mengungkapkan semakin terhubung ekosistem digital, maka semakin penting ketahanan siber nasional dibangun bersama. 

"Di era transformasi berbasis AI, pemerintah, industri, dan masyarakat perlu memperkuat kesiapan menghadapi ancaman yang semakin kompleks," ujar Sulistyo.

Tantangan Menghadapi Ancaman Siber

Chief Executive Officer Zentara Regal Rauniyar Star menyampaikan tantangan bagi organisasi saat ini bukan sekadar merespons serangan siber, tetapi mengenali dan mengantisipasi ancaman sebelum berkembang menjadi gangguan serius. Keamanan siber berbasis intelijen, yang didukung analitik berbantuan AI, forensik digital, dan kapabilitas pertahanan yang semakin otomatis, dapat membantu organisasi mengambil keputusan keamanan yang lebih cepat dan lebih tepat. 

"Di Zentara, kami percaya kapabilitas ini akan berperan penting dalam memperkuat ketahanan digital Indonesia, dan kami bangga mendukung NCC 2026 sebagai platform kolaborasi di seluruh ekosistem keamanan siber," ujar Regal. 

NCC 2026 diselenggarakan Naganaya Indonesia International bersama Aptiknas, GP Ansor, dan BUMA, serta WANTRII selaku co host. NCC 2026 didukung Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf).

(Arga Sumantri)