Ilustrasi Anadolu
Militer Nigeria Tepis Kemungkinan Gencatan Senjata dengan Boko Haram
Fajar Nugraha • 6 November 2026 09:46
Abuja: Militer Nigeria menyatakan akan terus melancarkan operasi terhadap kelompok-kelompok yang mengancam keselamatan publik.
Pihak militer menegaskan akan menindak mereka melalui operasi militer yang sah atau menyeret mereka ke proses hukum.
Pada Kamis 5 November 2026 militer Nigeria membantah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Boko Haram, ISIS Provinsi Afrika Barat (ISWAP), maupun kelompok bersenjata lainnya.
Mereka menegaskan bahwa operasi kontra-terorisme akan terus berlanjut, di tengah munculnya tuduhan mengenai adanya negosiasi rahasia dengan kelompok pemberontak.
Markas Besar Pertahanan menyatakan bahwa pasukan Nigeria terus memberikan tekanan terhadap kelompok-kelompok bersenjata melalui berbagai operasi di seluruh negeri, termasuk terhadap pelaku penculikan dan jaringan kriminal lainnya.
"Tidak ada yang namanya gencatan senjata," ujar juru bicara militer, Mayor Jenderal Samaila Uba, dalam sebuah konferensi pers di ibu kota Abuja, seperti dikutip Anadolu, Jumat 6 November 2026.
Menurut pernyataan pers yang dibagikan kepada Anadolu, pihak militer menyatakan akan terus melanjutkan operasi terhadap kelompok-kelompok yang mengancam keselamatan publik. Mereka menambahkan bahwa para pelaku kriminal akan ditindak melalui operasi militer yang sah atau diproses secara hukum.
Pernyataan ini muncul menyusul laporan dari The New Humanitarian pada September yang menduga bahwa pemerintah telah mencapai gencatan senjata sementara dengan salah satu faksi Boko Haram yang dipimpin oleh Ibrahim Bakura Doro.
Laporan tersebut, yang mengutip tiga sumber yang memiliki kontak dengan anggota senior kelompok pemberontak, menyebutkan bahwa gencatan senjata itu telah berlangsung sejak Juni, menyusul negosiasi yang berujung pada pembebasan 360 warga sipil yang diculik dari komunitas Ngoshe di negara bagian Borno, wilayah timur laut Nigeria.
Laporan itu juga menduga adanya pembayaran sebesar 5 miliar naira kepada kelompok pemberontak tersebut. Pemerintah Nigeria membantah telah melakukan pembayaran apa pun.
Namun, Uba mengungkapkan bahwa selama September dan Oktober, pasukan militer telah melaksanakan 588 operasi keamanan, melumpuhkan 435 teroris dan bandit, menangkap 809 tersangka, serta menerima penyerahan diri dari 198 anggota kelompok pemberontak.
Ia menambahkan, militer juga berhasil menyelamatkan 717 korban penculikan serta mengamankan 5.666 pucuk senjata, amunisi, bahan peledak, dan alat peledak rakitan.
Uba menambahkan bahwa angkatan bersenjata kini tengah melacak pergerakan kelompok pemberontak yang mulai meninggalkan basis-basis tradisional mereka, guna mencegah mereka mendirikan markas baru di wilayah lain di negara tersebut.
Nigeria telah berjuang melawan pemberontakan Boko Haram sejak 2009 sebuah konflik yang telah menewaskan ribuan orang, menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal, serta menyebarkan ketidakamanan di seluruh wilayah Danau Chad, termasuk negara-negara tetangga seperti Kamerun, Chad, dan Niger.