Diplomasi Kopi Indonesia Perkuat Peluang Ekspor dan Kesejahteraan Petani

KAPPI di Indonesia Pavilion dalam pameran Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026. Kegiatan yang berlangsung di Tokyo Big Sight, Jepang

Diplomasi Kopi Indonesia Perkuat Peluang Ekspor dan Kesejahteraan Petani

Whisnu Mardiansyah • 26 October 2026 22:36

Jakarta: Keragaman kopi Indonesia menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk memperluas jangkauan pasar internasional. Keunikan aroma, cita rasa, daerah asal, dan metode pengolahan menjadi karakter yang dapat diperkenalkan kepada konsumen serta pelaku industri kopi di berbagai negara.

Yayasan Pengembangan dan Edukasi Kopi (KAPPI) mendorong upaya tersebut melalui diplomasi kopi yang memadukan edukasi, pengalaman mencicipi, dan interaksi langsung dengan konsumen. Langkah ini tidak hanya ditujukan untuk memperkenalkan kualitas kopi Nusantara, tetapi juga membuka peluang pasar dan menghimpun masukan bagi pengembangan kapasitas petani.

Salah satu upaya itu diwujudkan melalui partisipasi KAPPI di Indonesia Pavilion dalam pameran Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026. Kegiatan yang berlangsung di Tokyo Big Sight, Jepang, pada pertengahan Oktober 2026 tersebut didukung Bank Indonesia.

Dalam kesempatan itu, KAPPI memperkenalkan sejumlah kopi dari petani binaan Bank Indonesia yang telah melalui proses kurasi. Beragam produk tersebut ditampilkan untuk memperlihatkan karakter kopi Indonesia kepada calon pembeli dan penikmat kopi di Jepang.
 


Mengenalkan Karakter Kopi Lewat Aroma dan Cita Rasa

KAPPI menghadirkan kopi Aceh Gayo, Mandheling, Java, Bali, Kalosi Toraja, serta kopi luwak dalam pameran tersebut. Pengunjung dapat mengenali perbedaan karakter setiap kopi melalui sesi pengenalan aroma dan pencicipan.

Kegiatan ini juga menjadi sarana memperluas wawasan konsumen Jepang yang telah mengenal kopi Indonesia melalui sejumlah nama daerah, seperti Toraja dan Mandheling. Kehadiran kopi Aceh Gayo dan Java turut memperlihatkan luasnya variasi cita rasa yang ditawarkan kopi Nusantara.

Salah satu tanggapan pengunjung muncul saat kopi robusta yang disajikan dinilai memiliki karakter rasa menyerupai arabika. Respons tersebut memperlihatkan pengalaman pencicipan yang berbeda dari persepsi umum terhadap jenis kopi, sekaligus membuka ruang untuk mengenali karakter produk berdasarkan kualitas dan pengolahannya.

Interaksi langsung dengan konsumen menjadi bagian penting dalam kegiatan diplomasi kopi KAPPI. Selain memperkenalkan produk, kegiatan ini memberi kesempatan untuk memahami preferensi pasar sekaligus menunjukkan keterampilan petani dan pelaku pengolahan kopi Indonesia.

“Bagi KAPPI, diplomasi kopi bukan sekadar memperkenalkan produk Indonesia di luar negeri. Kami ingin masyarakat internasional mengenal keragaman karakter kopi kita, sekaligus memahami bahwa di balik kualitas tersebut ada petani yang terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Respons dari pasar internasional juga menjadi masukan berharga untuk memperkuat edukasi dan pendampingan petani,” ujar Roby Wibisono dari Yayasan Pengembangan dan Edukasi Kopi (KAPPI), Senin, 26 Oktober 2026.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya menghubungkan pengenalan kopi Indonesia di pasar global dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani sebagai pihak yang berperan dalam proses produksinya.

7 Negara Produsen Kopi Terbesar di Dunia, Indonesia Termasuk

(Biji kopi. Foto: via FAO.org)


Kolaborasi untuk Membuka Akses Pasar

Partisipasi KAPPI dalam pameran di Jepang juga memperlihatkan peran kolaborasi dalam memperluas akses pasar bagi kopi yang dihasilkan petani Indonesia. Dukungan Bank Indonesia memungkinkan kopi dari petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan yang telah dikurasi diperkenalkan kepada calon pembeli serta pelaku industri kopi Jepang.

Proses kurasi menjadi salah satu tahapan untuk menampilkan potensi kopi berdasarkan karakter dan kualitas produknya. Sementara itu, pertemuan dengan pelaku pasar internasional memberikan kesempatan untuk mengenali preferensi konsumen dan persyaratan pasar yang perlu diperhatikan dalam pengembangan usaha kopi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P Gozali, menekankan pentingnya pemahaman terhadap selera konsumen Jepang dalam menentukan kopi yang dibawa ke pasar tersebut. Upaya itu diharapkan dapat memperbesar peluang ekspor sekaligus memberikan dampak bagi kesejahteraan petani.

“Kita sudah mengetahui dan mengenal betul selera penikmat kopi di Jepang, oleh karena itu kita mencari kopi yang terbaik untuk kita bawa ke sini. Tentunya kita harapkan langkah-langkah strategis ini dapat meningkatkan ekspor dari kopi dan tujuan akhirnya kita dapat meningkatkan taraf hidup dari petaninya,” ujar Ricky P Gozali.

Apresiasi terhadap potensi kopi Indonesia juga disampaikan CEO Kurasi, Yozo Otsuki. Ia menilai kopi Indonesia memiliki prospek yang menjanjikan di pasar internasional, terutama dengan beragam karakter yang ditawarkan.

“Bagi saya, kopi Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di masa depan. Saya selalu takjub melihat keanekaragaman yang ditawarkan oleh kopi Indonesia," ungkap Yozo Otsuki.


Membawa Pengalaman Pasar Global kepada Petani

Keikutsertaan dalam SCAJ 2026 melanjutkan rangkaian diplomasi kopi KAPPI yang telah berlangsung sejak 2025. Sejumlah kegiatan sebelumnya mencakup World Expo Osaka 2025, SCAJ 2025, Foodex Japan 2026, dan World of Coffee Bangkok 2026.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kualitas dan karakter kopi Indonesia kepada konsumen serta pelaku industri di pasar internasional.

Bagi KAPPI, manfaat diplomasi kopi tidak hanya diukur dari pengenalan produk atau pertemuan dengan calon pembeli. Pengalaman berinteraksi dengan konsumen dan menerima tanggapan mengenai karakter kopi Indonesia juga dapat menjadi masukan untuk memperkuat edukasi serta pendampingan bagi petani.

Informasi mengenai kebutuhan pasar dapat membantu petani dan pelaku usaha memahami pentingnya menjaga konsistensi mutu, menentukan metode pengolahan, serta mempertahankan karakter produk. Apresiasi dari konsumen internasional juga menjadi bagian dari pengalaman yang dapat mendukung kepercayaan diri petani terhadap hasil produksi mereka.

Melalui diplomasi kopi yang terhubung dengan penguatan kapasitas petani, KAPPI berupaya memperluas pengenalan terhadap keragaman kopi Indonesia sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk petani Nusantara.

(Whisnu M)