Kualitas Udara Manado Terdampak Kabut Asap Karhutla Lintas Wilayah

Kondisi udara di Kota Manado, Provinsi Sulut yang mulai mengganggu jarak pandang akibat asap yang mulai menebal akibat karhutla, di Manado, Rabu, 7 Oktober 2026. ANTARA/Nancy L Tigauw

Kualitas Udara Manado Terdampak Kabut Asap Karhutla Lintas Wilayah

Silvana Febiari • 7 October 2026 09:44

Manado: Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendeteksi kualitas udara di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kondisi tersebut diperparah meningkatnya intensitas debu selama musim kemarau.

"Kami mendeteksi terjadi penurunan kualitas udara di Kota Manado yang disebabkan paparan asap karhutla, serta meningkatnya intensitas debu sepanjang musim kemarau berlangsung," kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Manado Leon Piri, di Manado, dilansir Antara, Rabu, 7 Oktober 2026.

Dia menjelaskan penurunan kualitas udara mulai terdeteksi di awal puncak musim kemarau pada Agustus hingga akhir September 2026. “Kejadian karhutla, menyebabkan paparan asap di ruang udara Kota Manado semakin pekat,” ungkap Leon.


Penurunan kualitas udara juga dipengaruhi meningkatnya intensitas debu. Angin kencang yang bertiup sepanjang kemarau berlangsung, ditambah polutan dari asap kendaraan bermotor.

“Tentu kualitas udara akan menurun ketika ada kebakaran hutan dan lahan, ada partikel-partikel debu, polutan yang masih tertinggal di atas,” jelas Leon.

Dinas Lingkungan Hidup memantau kualitas udara dengan mengambil sampel di beberapa titik. “Sampelnya kita ambil dari industri, perkantoran, transportasi, dan pemukiman. Di semester pertama, hasil pengukuran masih di bawah baku mutu,” imbuhnya.

Leon bilang, aktivitas pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan cara membakar semakin memperburuk kualitas udara di Manado.


Petugas pemadam kebakaran saat memadamkan api di area runway Bandara Samrat, Manado, Selasa, 6 Oktober 2026. ANTARA/HO-Bandara


Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara melalui Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Muhammad Candra Buana mengatakan Sulawesi Utara mengalami kabut asap kiriman atau transboundary haze. Asap tersebut berasal dari wilayah Kalimantan dan Papua yang tengah dilanda karhutla.

Berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer dan citra satelit penginderaan jauh, fenomena tersebut merupakan kabut asap kiriman lintas wilayah. Dari analisis pola pergerakan angin dan sebaran asap satelit, massa udara membawa partikel asap tipis dari aktivitas Karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan, serta wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya.

Ia mengatakan asap karhutla terbawa angin di lapisan atmosfer menengah hingga atas menuju Sulawesi Utara. Selain kiriman asap dari wilayah lain, karhutla yang terjadi di Sulawesi Utara turut memengaruhi munculnya kabut asap belakangan ini.

(Silvana Febiari)