Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto. ANTARA/Rolandus Nampu
Mendiktisaintek Minta Kampus Perkuat Sains Hadapi Superinteligence
Achmad Zulfikar Fazli • 2 October 2026 20:46
Badung: Perguruan tinggi diminta memperkuat penguasaan sains fundamental untuk menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menuju era superintelligence. Perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, mulai dari agentic AI, superintelligence, hingga komputasi kuantum menuntut perguruan tinggi menyiapkan talenta yang memiliki pemahaman kuat terhadap ilmu pengetahuan dasar.
"Kecuali satu, kita menguasai hard science. Kita menguasai fundamental science. Kalau tidak, kita akan menjadi budak-budak superintelligence baru," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) XII Tahun 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, dilansir dari Antara, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurut dia, penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan kemampuan menggunakan produk berbasis AI. Talenta Indonesia perlu memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan agar mampu mengembangkan dan mengendalikan teknologi yang semakin kompleks.
Brian mengatakan perkembangan AI telah bergerak menuju agentic AI yang mampu menjalankan tugas lebih mandiri. Perkembangan tersebut kemudian berpotensi bertemu dengan superintelligence dan komputasi kuantum.
"Agentic AI bertemu dengan super AI (Superintelligence), bertemu dengan quantum computation, ini kita akan semakin keteteran," ujar Brian.
.jpg)
Ilustrasi artificial intelligence. Dok. Metrotvnews.com
Dia menjelaskan komputer pada masa mendatang akan semakin berkembang dengan teknologi komputasi kuantum yang menggunakan prinsip quantum computation, berbeda dari sistem komputasi biner yang selama ini dikenal.
Brian menekankan pentingnya penguatan hard science dan fundamental science dalam pendidikan tinggi. Menurut dia, kemampuan tersebut menjadi fondasi bagi talenta muda Indonesia untuk menghadapi perubahan teknologi.
"Pasukan kita, talenta kita, anak-anak muda kita sepintas pintar, sepintas dia pintar, tetapi sebenarnya hanya artificial. Jadi, artificial intelligence ini betul-betul artificial untuk anak-anak muda kita kalau tidak menguasai hard science, kalau tidak menguasai fundamental science," kata Brian.
Brian juga menekankan peran guru dan perguruan tinggi dalam memastikan perkembangan teknologi tetap diimbangi dengan penguasaan ilmu pengetahuan fundamental.