IHSG Diprediksi di Level 6.200 hingga Akhir 2026

Ilustrasi. Foto: Dok MI

IHSG Diprediksi di Level 6.200 hingga Akhir 2026

Eko Nordiansyah • 29 September 2026 21:35

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berada di level 6.200 hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut tidak jauh berbeda dari posisi IHSG saat ini yang berada di kisaran level 6.118.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Herald van der Linde mengatakan pergerakan pasar saham Indonesia masih dihadapi sejumlah tantangan sebelum berpotensi lebih tinggi.

“Target IHSG kami berada di sekitar level 6.200 pada akhir tahun ini. Saat ini, kalau tidak salah, IHSG berada di sekitar 6.120,” kata Herald dalam media briefing HSBC Indonesia di St. Regis Jakarta, Selasa, 29 September 2026.

Selain stabilitas rupiah, Herald melihat investor mulai kembali memperhatikan pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut membuka peluang masuknya kembali aliran modal ke pasar domestik.

Menurutnya, Indonesia juga dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi dari pasar saham yang tengah mendapat dorongan besar dari tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Anda mulai melihat investor kembali memperhatikan Indonesia, salah satunya sebagai semacam strategi investasi yang berlawanan dengan tren AI,” ujar dia.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Pertumbuhan laba emiten jadi perhatian

Meski demikian, Herald menilai pasar saham Indonesia masih berada di kelompok tengah apabila dibandingkan dengan sejumlah pasar saham di kawasan Asia. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah pertumbuhan laba perusahaan.

Pasar yang mendapat dorongan dari perkembangan AI dinilai memiliki daya tarik lebih besar karena mencatat pertumbuhan laba perusahaan yang jauh lebih tinggi.

“Jika melihat parameter lain di kawasan, seperti pertumbuhan laba dan valuasi, pasar yang berkaitan dengan AI terlihat sangat menarik karena laba perusahaan-perusahaan tersebut benar-benar melonjak,” kata Herald.

Ia mencontohkan Korea Selatan yang mencatat peningkatan proyeksi pertumbuhan laba cukup signifikan. Pada awal tahun, pertumbuhan laba perusahaan di negara tersebut diperkirakan sekitar 50 persen.

Namun, proyeksi tersebut terus meningkat hingga mencapai sekitar 320 persen dan berpotensi kembali naik menjadi sekitar 330 hingga 340 persen.

Sementara itu, pertumbuhan laba perusahaan di Indonesia diproyeksikan berada di kisaran 10 persen. Angka tersebut relatif sejalan dengan India yang diperkirakan mencatat pertumbuhan laba sekitar 10 hingga 12 persen.

Perbedaan pertumbuhan laba tersebut membuat ruang penguatan pasar saham Indonesia masih lebih terbatas dibandingkan dengan sejumlah pasar Asia yang mendapatkan dorongan kuat dari sektor AI. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)