Netanyahu Disebut Rancang Pembajakan Pesawat untuk Seret Trump ke Perang Baru Iran

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu

Netanyahu Disebut Rancang Pembajakan Pesawat untuk Seret Trump ke Perang Baru Iran

Muhammad Reyhansyah • 2 October 2026 08:59

Teheran: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut merancang operasi false flag dengan skenario pembajakan pesawat Uni Emirat Arab (UEA) untuk menyeret Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke dalam konflik baru dengan Iran.

Menurut laporan Press TV yang mengutip sumber yang disebut memahami persoalan tersebut, Kamis, 1 Oktober 2026, skenario pembajakan pesawat Emirat yang terbang dari UEA menuju wilayah pendudukan Israel, sebelum akhirnya mendarat di Arab Saudi, merupakan operasi yang telah direncanakan.

“Rencana itu dibahas dan diselesaikan ketika Netanyahu mengunjungi Uni Emirat Arab tiga hari sebelum insiden,” kata sumber tersebut, dikutip dari Press TV.

Netanyahu disebut datang bersama sejumlah pejabat senior militer dan intelijen Israel.

Sumber itu mengklaim bahwa selama kunjungan tersebut, selain UEA diberi peran dalam sejumlah proyek regional Israel, pembicaraan multilateral juga dilakukan dengan pejabat dari beberapa negara Arab untuk merancang operasi false flag dan mengaitkannya dengan Iran.

Menurutnya, tujuan operasi tersebut adalah mendorong Trump masuk ke dalam konflik baru dan memicu putaran perang berikutnya dengan Iran.

Dikaitkan dengan Politik Netanyahu

Sumber tersebut juga mengaitkan dugaan rencana itu dengan kondisi politik Netanyahu.

Menurut sumber itu, Netanyahu khawatir koalisinya tidak akan mampu memperoleh mayoritas dan membentuk pemerintahan jika pemilu Knesset digelar dalam kondisi saat ini.

“Dalam kasus tersebut, setelah dicopot dari jabatan perdana menteri, dia harus menghabiskan sisa kehidupan politiknya di balik jeruji besi,” kata sumber tersebut.

Sumber itu menuduh Netanyahu berharap dapat memanfaatkan pengaruhnya terhadap Gedung Putih dan Trump secara pribadi untuk kembali menyeret AS ke dalam perang berskala penuh melawan Iran.

Dia juga menuduh Netanyahu berupaya menggunakan “senjata, ekonomi, dan kredibilitas Amerika yang menurun” untuk memperbaiki kondisi politiknya.

Sementara itu, sumber tersebut mengatakan Iran terus memantau pergerakan AS dan Israel.

“Persiapan telah dilakukan untuk menghadapi kemungkinan tindakan gegabah lainnya dengan dalih skenario pembajakan pesawat yang absurd dan telah direncanakan sebelumnya oleh Netanyahu,” ujarnya.

Dia mengatakan Iran siap memberikan “pukulan keras dan menghancurkan” terhadap Israel dan AS jika kedua negara melakukan tindakan bermusuhan.


Muncul Setelah Kunjungan UEA

Tuduhan tersebut muncul setelah Netanyahu melakukan perjalanan ke UEA dan menggelar pembicaraan tertutup dengan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei juga mengeluarkan pernyataan pada Rabu, hari ketika insiden pesawat tersebut terjadi.

Dalam pesan berbahasa Arab, Rezaei mengatakan keberadaan pangkalan militer AS tidak membuat UEA aman dan menyebut keberadaan “Penjagal Gaza” di negara tersebut juga tidak akan membawa konsekuensi yang menguntungkan.

Rezaei mendesak Abu Dhabi untuk “belajar dari perang terakhir, berhenti memicu perang”, serta menghentikan klaim yang disebutnya tidak berdasar atas pulau-pulau Iran, yakni Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil.

Sebelum insiden pesawat Emirat tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran juga mengecam “kehadiran provokatif” Netanyahu di kawasan.

Kementerian tersebut memperingatkan adanya “konsekuensi yang sangat berbahaya” dari kehadiran Israel ketika Asia Barat berada dalam salah satu periode paling rentan.

Iran mengaitkan pernyataan itu dengan serangan Israel terhadap Iran serta eskalasi pendudukan dan perang di Palestina dan Lebanon.

“Semua negara di kawasan harus tetap waspada terhadap konsekuensi dan dampak dari kehadiran tersebut, yang mengancam perdamaian regional dan keamanan kolektif,” kata Kementerian Luar Negeri Iran.

Pejabat Iran sebelumnya berulang kali memperingatkan negara-negara Teluk bahwa kerja sama dengan Israel, termasuk penggunaan wilayah mereka untuk proyek-proyek yang ditujukan terhadap Iran, akan membawa konsekuensi serius dan tidak akan dimaafkan.

(Fajar Nugraha)