BMKG Ungkap Penyebab Kabut Asap Karhutla Kotim Sulit Terurai

Personel Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim melakukan pemadaman kebakaran di tengah kepungan asap, Rabu (30/9/2026). ANTARA/HO-BPBD Kotim

BMKG Ungkap Penyebab Kabut Asap Karhutla Kotim Sulit Terurai

Whisnu Mardiansyah • 1 October 2026 14:52

Sampit: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sulit terurai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut dinamika atmosfer yang dipengaruhi Siklus Walker menjadi salah satu faktor kondisi tersebut.

“Ketika terjadi updraft atau udara naik, biasanya dalam kondisi cuaca yang labil, kondensasi akan naik ke atas sehingga terbentuk awan. Namun, kondisi sekarang lebih cenderung terjadi daya dorong atmosfer ke bawah. Akibatnya, asap seperti terkurung di permukaan,” kata Kepala BMKG Kotim melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan, Mulyono Leo Nardo di Sampit, seperti dilansir Antara, Kamis, 1 Oktober 2026.

Mulyono menjelaskan kondisi atmosfer saat ini membuat proses pengangkatan uap air menuju lapisan atas tidak berlangsung optimal. Kondisi tersebut berkaitan dengan Siklus Walker, yakni pola sirkulasi atmosfer di wilayah tropis.

Perubahan suhu permukaan laut di kawasan Pasifik dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer tersebut. Dalam kondisi tertentu, Indonesia dapat mengalami gerakan udara turun lebih dominan.

Kondisi itu juga berkaitan dengan rendahnya labilitas atmosfer yang dapat menghambat pertumbuhan awan serta mengurangi peluang terbentuknya hujan.

Gerakan udara turun atau downdraft membuat pembentukan awan hujan menjadi kurang signifikan. Dalam kondisi normal, uap air yang mengalami kondensasi terdorong ke lapisan atas, kemudian membentuk awan dan berpotensi menghasilkan hujan.

“Sekarang kondensasi tidak bisa naik karena uap airnya tidak cukup dan labilitas atmosfer juga rendah. Gerakan udara yang lebih dominan dari atas ke bawah justru menekan pembentukan awan,” ujar Mulyono.
 


Angin Lemah Bikin Asap Bertahan di Permukaan

Kondisi atmosfer tersebut turut membuat asap akibat karhutla bertahan lebih lama di dekat permukaan. Keadaan dapat semakin sulit ketika kecepatan angin relatif rendah sehingga asap tidak segera terbawa keluar dari wilayah terdampak.

“Kalau anginnya tidak terlalu kencang, asap tidak bisa terbawa ke mana-mana. Akhirnya berkumpul dan terkurung di wilayah tersebut. Kalau ada angin yang lebih kencang, biasanya asap bisa terbawa,” katanya.

Kabut asap yang bertahan di permukaan juga dapat memengaruhi jarak pandang masyarakat. Kondisi tersebut sulit diprediksi secara pasti karena sumber asap yang memengaruhi suatu wilayah tidak selalu berasal dari lokasi setempat.


Kabut asap menyelimuti perairan di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, Senin, 14 September 2026. ANTARA/Ogen


Berdasarkan pengamatan historis BMKG Kotim, tingkat kepekatan kabut asap cenderung meningkat pada pagi hingga subuh. Kondisi biasanya mulai membaik sekitar pukul 08.00 WIB hingga menjelang tengah hari.

Namun, kepekatan asap kembali berpotensi meningkat setelah sekitar pukul 12.00 WIB hingga sore. Pola tersebut berkaitan dengan dinamika atmosfer harian serta kondisi sumber asap di sekitar wilayah terdampak.

“Kalau melihat historis kami, kecenderungannya kabut asap lebih pekat pada pagi atau subuh. Sekitar pukul 08.00 WIB mulai membaik hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah itu mulai pekat lagi sampai sore,” ujarnya.

Mulyono mengingatkan pola tersebut tidak selalu terjadi setiap hari. Dalam kondisi tertentu, tingkat kepekatan kabut asap dapat bertahan relatif sama sejak pagi hingga sore.

“Ada juga kondisi seperti beberapa hari yang lalu, dari pagi sampai sore tingkat kepekatannya sama. Kondisi seperti itu yang sebenarnya perlu kita waspadai,” katanya.

(Whisnu M)