10 Negara Penghasil Beras Terbesar Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

Beras. Foto: dok MI/Susanto.

10 Negara Penghasil Beras Terbesar Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

Husen Miftahudin • 2 October 2026 15:14

Jakarta: Asia masih menjadi kawasan dengan produksi beras terbesar di dunia. Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan India dan Tiongkok berada di posisi teratas, sementara Indonesia menempati peringkat keempat.

India dan Tiongkok secara bersama-sama menyumbang sekitar 55 persen produksi beras dunia pada musim 2025/2026. Berikut daftar 10 negara dengan produksi beras terbesar:
 

10 negara produsen beras terbesar dunia

 

1. India

  • Produksi 2025/2026: 154,02 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 28,2 persen.
 

2. Tiongkok

  • Produksi 2025/2026: 146,33 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 26,8 persen.
 

3. Bangladesh

  • Produksi 2025/2026: 37,65 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 6,9 persen.
 

4. Indonesia

  • Produksi 2025/2026: 33,80 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 6,2 persen.
 

5. Vietnam

  • Produksi 2025/2026: 26,20 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 4,8 persen.
 

6. Tailan

  • Produksi 2025/2026: 20,70 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 3,8 persen.
 

7. Filipina

  • Produksi 2025/2026: 12,35 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 2,3 persen.
 

8. Myanmar

  • Produksi 2025/2026: 12,00 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 2,2 persen.
 

9. Pakistan

  • Produksi 2025/2026: 10,00 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 1,8 persen.
 

10. Kamboja

  • Produksi 2025/2026: 8,10 juta ton.
  • Pangsa produksi global: 1,5 persen.
 
Produksi Beras Diprediksi Bertambah 7,06 Juta Ton, NTP Naik di September

(Beras Bulog. Foto: dok MI)

 

USDA pangkas proyeksi produksi beras


USDA memangkas proyeksi produksi beras global untuk musim 2026/2027, terutama akibat penurunan produksi di India dan Bangladesh.

Dalam Rice Outlook September 2026, USDA memperkirakan produksi beras global pada September 2026/27 mencapai 533,9 juta ton, turun dari 545,9 juta ton pada September 2025/26. Penurunan tersebut terjadi meskipun stok awal global meningkat menjadi 202,7 juta ton.

Di sisi permintaan, konsumsi dan penggunaan residual global diproyeksikan mencapai 539,6 juta ton, turun 3,2 juta ton dari perkiraan sebelumnya. Sementara itu, ekspor beras dunia diperkirakan berada di 62,7 juta ton pada 2026/27.
 

Produksi India turun


Di India, El Niño menyebabkan hujan monsun datang lebih lambat dan lebih sedikit. Hingga awal Agustus, curah hujan di India barat daya tercatat hampir 12 persen di bawah rata-rata jangka panjang.

Kondisi ini mengganggu penanaman padi di sejumlah wilayah sentra produksi, terutama di bagian timur dan semenanjung selatan. Luas tanam padi India untuk musim kharif diperkirakan turun sekitar empat persen atau 1,4 juta hektare dibandingkan 2025/2026.

USDA memangkas proyeksi produksi beras India 2026/2027 sebesar tiga juta ton menjadi 147 juta ton akibat penurunan produktivitas dan luas panen. Jika terealisasi, produksi India akan mencatat penurunan tahunan pertama sejak 2015/2016.
 

Produksi Bangladesh juga dipangkas


Produksi beras Bangladesh 2026/2027 dipangkas 1% menjadi 36,9 juta ton berdasarkan basis beras giling.

Produksi padi musim boro, yang menyumbang sekitar 54% produksi nasional, terdampak keterbatasan pupuk hingga akhir 2025 serta banjir di wilayah Haor Basin pada awal 2026.

Sementara itu, luas tanam padi musim aus juga turun karena petani beralih ke komoditas lain. Banjir pada awal musim menyebabkan penanaman padi aman tertunda.
 

Sri Lanka cetak rekor


Berbeda dengan India dan Bangladesh, produksi beras Sri Lanka justru diproyeksikan mencapai rekor 3,7 juta ton pada 2025/2026. USDA menaikkan estimasi luas panen dan produktivitas. Produktivitas bahkan diperkirakan meningkat 10 persen.

Kenaikan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya penggunaan pupuk setelah pemerintah Sri Lanka membatalkan kebijakan 2021 yang sebelumnya melarang penggunaannya.
 

Konsumsi global dipangkas


Seiring penurunan produksi India, USDA juga memangkas proyeksi konsumsi dan penggunaan beras global 2026/2027 sebesar 3,2 juta ton menjadi 539,6 juta ton.

Konsumsi beras India diperkirakan turun akibat produksi domestik yang lebih rendah. Meski demikian, angkanya tetap diproyeksikan mencapai rekor tertinggi, sekitar 4 juta ton di atas rekor 2024/2025.

Peningkatan ini didorong program ketahanan pangan pemerintah serta penggunaan beras untuk produksi etanol. India saat ini menetapkan kewajiban campuran etanol sebesar 20 persen.

Sementara itu, proyeksi ekspor beras dunia 2026/2027 hampir tidak berubah, yautu 62,7 juta ton, setelah dipangkas 160 ribu ton. Penurunan terbesar terjadi di Kamboja, dengan proyeksi ekspor dipangkas 200 ribu ton menjadi 3,6 juta ton.

Penjualan beras gabah Kamboja ke Vietnam diperkirakan masih lesu. Vietnam memiliki fasilitas penggilingan, pengeringan, dan penyimpanan yang lebih baik sehingga lebih efisien dari sisi biaya.

Sejalan dengan itu, USDA memangkas proyeksi impor beras Vietnam 2026/2027 sebesar 200 ribu ton menjadi 3,6 juta ton, terutama karena melemahnya permintaan beras gabah dari Kamboja. (Hasri Khairunnisa)

(Husen Miftahudin)