Jepang dan Rusia terjebak kebuntuan diplomatik atas sengketa Kepulauan Kuril. (Anadolu Agency)
Jepang-Rusia Terjebak Kebuntuan Diplomatik atas Sengketa Kepulauan Kuril
Willy Haryono • 19 October 2026 16:52
Tokyo: Jepang bertekad untuk terus menjalin komunikasi yang diperlukan dengan Rusia di tengah kebuntuan hubungan bilateral akibat sengketa wilayah atas sejumlah pulau.
Pernyataan ini disampaikan ketika kedua negara memperingati 70 tahun penandatanganan deklarasi bersama yang menormalisasi hubungan diplomatik mereka.
“Bahkan di tengah sulitnya hubungan Jepang-Rusia saat ini, kami akan terus menjalin komunikasi yang diperlukan dengan pihak Rusia dan berupaya mengatasi kebuntuan yang ada,” kata juru bicara pemerintah Jepang Minoru Kihara kepada wartawan di Tokyo, menurut laporan Kyodo News, Senin, 19 Oktober 2026.
Hubungan kedua negara memburuk sejak perang Rusia-Ukraina dimulai pada Februari 2022. Jepang bergabung dengan sekutu-sekutu Barat dalam menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.
Setelah Perang Dunia II, Jepang dan Uni Soviet menormalisasi hubungan melalui deklarasi bersama yang ditandatangani pada 19 Oktober 1956. Namun, kedua negara masih bersengketa mengenai sejumlah pulau di dekat Hokkaido, Jepang, termasuk Shikotan dan kelompok pulau Habomai.
Jepang menyebut wilayah sengketa tersebut sebagai Northern Territories atau Wilayah Utara, sedangkan Rusia menyebutnya sebagai bagian dari Kepulauan Kuril Selatan.
Tokyo menganggap Wilayah Utara, yang mencakup Iturup, Kunashiri, Shikotan, dan kelompok pulau Habomai, telah direbut secara ilegal oleh Uni Soviet setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945.
Sebaliknya, Rusia menilai pengambilalihan wilayah tersebut sah.
Sengketa teritorial itu menghambat kedua negara untuk menandatangani perjanjian damai secara resmi setelah Perang Dunia II. Ketegangan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Jepang menjatuhkan sanksi terhadap Moskow terkait perang Rusia-Ukraina.
Baca juga: Warga Rusia Tolak Pemberian Pulau Kuril untuk Jepang