Ilustrasi energi surya. Foto: dok Modena Energy.
Hilirisasi dan Kemandirian Energi Diyakini Percepat Transformasi Kekayaan Mineral Indonesia
Siti Yona Hukmana • 4 October 2026 20:33
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto menambah Kementerian Koordinator bidang Hilirisasi dan Transisi Energi dalam Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Bahlil Lahadalia. Kehadiran kementerian baru ini diyakini mempercepat transformasi kekayaan mineral Indonesia menjadi basis industri energi masa depan.
Besarnya produksi nikel hingga berkembangnya hilirisasi tembaga, emas, dan bauksit dinilai menjadi modal untuk membangun industri baterai, kendaraan listrik, energi surya, hingga industri berbasis teknologi di dalam negeri. Maka itu, menggabungkan hilirisasi dan transisi energi disebut langkah strategis.
"Ini sangat strategis karena hilirisasi mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar," kata Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto dalam keterangan tertulis, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurut dia, hilirisasi dan transisi energi perlu dirancang dalam satu ekosistem agar pertumbuhan industri diikuti penyediaan energi yang semakin efisien, andal, dan rendah karbon. Integrasi tersebut semakin penting mengingat investasi hilirisasi pada Semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Wahyudi menilai perkembangan industri nikel menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan agenda tersebut. Produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton atau sekitar 41 persen produksi dunia pada 2023.
Menurut dia, perkembangan itu menunjukkan perubahan signifikan posisi Indonesia dari pemasok bahan mentah menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok global.
"Pekerjaan berikutnya adalah memastikan nilai tambah semakin banyak tinggal di dalam negeri melalui penguatan industri baterai, transfer teknologi, riset, dan keterlibatan perusahaan nasional," ujar Wahyudi.

Menko Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Foto: Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden.
Wahyudi melanjutkan hilirisasi mulai berkembang pada komoditas mineral lainnya. Smelter Freeport di Gresik memiliki kapasitas pengolahan sekitar 3 juta ton konsentrat per tahun dengan potensi menghasilkan sekitar 800 ribu ton katoda tembaga dan 50 ton emas per tahun. Sementara Smelter Grade Alumina Refinery atau SGAR Mempawah, memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Wahyudi menilai pengembangan nikel, tembaga, emas, dan bauksit secara bersamaan dapat memperluas basis industrialisasi Indonesia. Nikel dapat menjadi basis pengembangan baterai dan kendaraan listrik, tembaga menopang industri elektronik dan kelistrikan, sedangkan bauksit dapat dikembangkan menuju aluminium dan berbagai produk manufaktur.
"Diversifikasi hilirisasi ini penting karena Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas. Nikel, tembaga, bauksit, dan emas memiliki rantai nilai yang berbeda dan dapat menjadi fondasi industri manufaktur, elektronik, energi, hingga kendaraan listrik," kata Wahyudi.
Wahyudi mengatakan posisi Bahlil sebagai Menko sekaligus Menteri ESDM membuka peluang mengintegrasikan kebijakan pertambangan, energi, hilirisasi, dan investasi dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, besarnya investasi yang masuk tidak berdiri sendiri, tetapi menghasilkan efek berganda melalui pertumbuhan industri pendukung, penciptaan lapangan kerja, penguasaan teknologi, dan pengembangan kawasan industri.