Dari Pekalongan ke Panggung Dunia, Perada Batik Meramu Tradisi dan Teknologi

Perada Batik dalam INACRAFT October 2026 yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Dokumentasi/ istimewa.

Dari Pekalongan ke Panggung Dunia, Perada Batik Meramu Tradisi dan Teknologi

Deny Irwanto • 7 October 2026 17:35

Jakarta: Batik tidak selalu harus hadir dalam warna dan motif yang lekat dengan bayangan masa lalu. Di tangan Perada Batik, warisan kriya dari Pekalongan itu terus bergerak, mencari bentuk baru melalui eksplorasi desain, material, teknologi, hingga selera konsumen generasi muda.

Semangat tersebut dibawa Perada Batik dalam INACRAFT October 2026 yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Jenama asal Pekalongan ini hadir di Hall A, stan 82, membawa karya yang mempertemukan keterampilan membatik dengan pendekatan desain yang lebih kontemporer.

Kehadiran Perada Batik sejalan dengan tema INACRAFT October 2026, “Youthpreneur Technocraft”, yang menyoroti peran generasi muda, teknologi, inovasi, dan pengembangan produk dalam masa depan industri kriya Indonesia.

Bagi Perada, teknologi bukan untuk menggantikan tangan pembatik. Sebaliknya, inovasi menjadi ruang untuk memperluas kemungkinan tanpa meninggalkan proses dasar yang membuat batik tetap menjadi batik.

Tiga Generasi Sempat Terputus


Perjalanan Perada Batik justru bermula dari sebuah jeda.

Meski tumbuh di Pekalongan yang dikenal sebagai salah satu sentra batik Indonesia, keluarga Perada sempat mengalami jeda hingga tiga generasi dalam tradisi membatik. Pada 2012, tradisi tersebut mulai dirintis kembali.

Prosesnya bukan sekadar kembali membuat kain bermotif. Pengetahuan tentang batik harus dipelajari dari awal, mulai dari material, motif, teknik produksi hingga filosofi yang berada di balik setiap karya.


Perada Batik dalam INACRAFT October 2026 yang berlangsung pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Dokumentasi/ istimewa.


Pemilik Perada Batik, Syamsul Huda, menjadikan proses tersebut sebagai bagian penting dari identitas jenama.

Perada masih mempertahankan teknik batik tulis menggunakan lilin panas, canting, serta cap tembaga. Setiap kain melewati sejumlah tahapan, mulai dari pemberian lilin, pewarnaan, pelorodan hingga penguncian warna.

Namun, tradisi tersebut tidak membuat Perada berhenti bereksperimen.

Salah satu eksplorasinya dilakukan melalui penggunaan material berbasis kertas semen yang dirancang mampu bertahan dalam proses perebusan bersuhu tinggi. Eksperimen tersebut mempertemukan pengetahuan tradisional dengan pendekatan teknologi, tanpa menghilangkan keterampilan tangan pembatik.

Terinspirasi Iwan Tirta, Dikembangkan dengan Karakter Sendiri


Karakter visual Perada Batik juga tumbuh dari perjalanan panjang Syamsul Huda dalam mempelajari batik.

Ia pernah belajar langsung kepada maestro batik Iwan Tirta. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi dalam memahami ketelitian motif, komposisi, serta kekayaan ragam hias Nusantara.

Jejak estetika tersebut terasa dalam pengembangan karya Perada. Namun, Perada tidak sekadar mengulang pakem atau mereproduksi karya masa lalu.

Eksplorasi terus dilakukan melalui motif, material, struktur kain, serta pengolahan warna. Hasilnya adalah karya yang tetap memiliki akar tradisi, tetapi tampil dengan bahasa visual yang lebih kontemporer.

Pendekatan itu menjadi penting ketika batik ingin berbicara kepada konsumen baru.

Dalam pewarnaan, Perada menggunakan pewarna alam untuk karya pameran dan koleksi tertentu. Sementara untuk produksi reguler, digunakan pewarna sintetis rendah logam berat dengan teknik steam untuk menjaga kualitas warna.

Pilihan warna pun dibuat lebih berani. Perada tidak membatasi diri pada palet cokelat sogan yang selama ini identik dengan batik klasik.

Warna-warna yang lebih segar dikembangkan untuk menjangkau konsumen milenial dan Gen Z sekaligus menempatkan batik sebagai busana yang dapat dikenakan dalam kehidupan sehari-hari.

Motif Nusantara Bertemu Inspirasi Dunia


Eksplorasi Perada juga terlihat dari sumber inspirasinya.

Motif yang dikembangkan tidak hanya berpijak pada pakem visual Jawa. Figur perempuan, flora, serta ragam budaya dari berbagai wilayah menjadi sumber gagasan.

Inspirasi bahkan datang dari Sumba, Nusa Tenggara, hingga budaya Aztec dari Amerika.

Namun, unsur tersebut tidak begitu saja dipindahkan ke permukaan kain. Perada menerjemahkannya kembali melalui bahasa visual batik sehingga melahirkan karakter yang berbeda.

Di titik inilah tradisi dan kreativitas bertemu.

Batik tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang beku, melainkan sebagai medium yang memungkinkan eksplorasi tanpa kehilangan identitas teknik dan prosesnya.

Dari Pekalongan Menuju Panggung Mode Dunia

Perada Batik juga mulai membaca perubahan selera dan tren fesyen global.

Selain rutin mengikuti INACRAFT Trade Fair, Perada pernah tampil dalam sejumlah pameran tekstil internasional, termasuk Ambiente Frankfurt dan Heimtextil. Perkembangan warna, tekstur, serta pola di pasar global menjadi salah satu referensi dalam mengembangkan koleksi.

Sepanjang 2025, kiprah Perada semakin meluas.


Jenama ini tampil dalam Fashion Oper Air di Berlin, Jerman, serta Transilvania Fashion Festival 2025. Perada juga mengikuti Mediterranean Fashion Week di Italia dan memperoleh International Award dari Mad Mood Milano 2025.

Perjalanan tersebut berlanjut ke Asia Tengah melalui Aspara Fashion Week di Kazakhstan. Jejaring FNL Network juga membuka peluang kolaborasi sekaligus memperluas eksposur karya Perada di pasar internasional.

Hubungan dengan pasar luar negeri sebenarnya sudah dibangun sejak awal perjalanan usaha.

Jepang menjadi salah satu pasar pertama Perada ketika produk yang ditawarkan masih berupa kain. Seiring perkembangan desain, karya Perada kemudian berkembang menjadi busana dan tampil dalam berbagai peragaan mode.

Kolaborasi dengan desainer dari Australia dan Singapura turut memperluas jejaring Perada di luar negeri.

Perjalanan menuju pasar global tidak selalu berjalan lurus. Sebelum pandemi covid-19, sekitar 90 persen penjualan Perada Batik terserap pasar ekspor. Pandemi kemudian mengubah peta tersebut.

Pasar domestik menjadi penopang utama usaha


Perubahan itu sekaligus menunjukkan bahwa keberlanjutan industri batik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menembus pasar internasional. Konsumen Indonesia juga memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem usaha kriya tetap hidup.

Bagi Syamsul Huda, tantangan Perada kini bukan lagi sekadar memperkenalkan jenama kepada pasar.

Yang lebih penting adalah mempertahankan karakter yang telah dibangun.

“Branding itu komitmen. Kita harus berani punya ciri khas,” kata Huda.

Prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika Perada memilih jalur desain yang lebih futuristik. Tidak semua pasar dapat langsung menerima inovasi. Namun, bagi Perada, eksperimen tetap diperlukan agar batik tidak berhenti pada pengulangan motif yang sama.

Kehadiran Perada Batik di INACRAFT October 2026 menjadi salah satu gambaran bagaimana tema “Youthpreneur Technocraft” dapat diterjemahkan dalam praktik.

Tradisi tetap berada di tangan pembatik. Sementara inovasi hadir melalui desain, eksplorasi material, teknologi produksi, strategi pemasaran, serta jejaring global.

Perjalanan Perada juga menunjukkan bahwa menjaga tradisi tidak selalu berarti mempertahankan segala sesuatu dalam bentuk yang sama.

Ada kalanya tradisi justru bertahan karena berani berdialog dengan zaman.

Bagi Perada Batik, masa depan batik bukan tentang memilih antara tradisi atau modernitas. Tantangannya adalah menjaga ketelitian proses yang diwariskan, sembari menemukan bahasa desain yang dapat diterima oleh pasar dan generasi baru.

Dengan cara itu, batik tidak hanya menjadi simbol identitas budaya Indonesia.

Batik juga dapat terus hidup sebagai produk fesyen yang dikenakan, dikembangkan, dan diapresiasi dalam keseharian—dari Pekalongan hingga panggung mode dunia.

 

(Deny Irwanto)