Putri Purnama Sari • 2 November 2025 10:55
Jakarta: Kabar duka datang dari Keraton Kasunanan Surakarta. Sri Susuhunan Paku Buwono (PB) XIII, raja Keraton Solo, dikabarkan meninggal dunia pada Minggu pagi, 2 November 2025 di usia 77 tahun.
Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Jawa, terutama para abdi dalem dan keluarga besar Keraton Surakarta.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, PB XIII dinyatakan meninggal di Rumah Sakit Indriati Solobaru Sukoharjo pada pukul 07.29 WIB. Hingga kini, pihak Keraton Surakarta belum mengumumkan secara resmi detail penyebab meninggalnya.
Sejumlah tokoh adat, pejabat daerah, dan masyarakat sekitar Solo telah menyampaikan ucapan duka cita mendalam atas wafatnya Sinuhun. Keraton Kasunanan Surakarta pun mulai mempersiapkan berbagai ritual adat untuk menghormati kepergian sang raja.
Rencananya jenazah PB XIII disemayamkan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selama beberapa hari sebelum dimakamkan di Pemakaman Raja-raja Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Kerabat keraton KPH Eddy Wirabhumi membuka kemungkinan bahwa pemakaman PB XIII akan digelar pada Selasa, 4 November 2025.
“Sedang dibicarakan pagi ini. Kemungkinan besar di Hari Selasa. Selasa besok kebetulan Selasa Kliwon. Kemungkinan besar di atas jam 13.00,” jelasnya.
Profil Singkat Sri Susuhunan Paku Buwono XIII
Dok Instagram: @pakoeboewono.13
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII memiliki nama lengkap Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Hangabehi. Beliau lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948, dan merupakan putra tertua dari PB XII, raja sebelumnya.
Paku Buwono XIII naik takhta pada 2004, setelah menggantikan Sri Susuhunan Pakubuwono XII yang diketahui telah menjadi raja di Keraton Solo sejak tahun 1945 hingga 2004 atau selama 59 tahun.
Ia menduduki tahta didampingi oleh Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pakubuwono. Dari pernikahannya dengan GKR Pakubuwono, ia dikaruniai seorang putra yaitu GRM Suryo Aryo Mustiko atau KGPH Purbaya.
Sebagai pemimpin, PB XIII dikenal memiliki kepribadian tenang dan menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Jawa. Ia aktif menjaga keberlangsungan upacara adat, kesenian, dan spiritualitas tradisional keraton, seperti Sekaten, Tingalan Jumenengan Dalem, dan berbagai ritual kebudayaan lainnya.
Di bawah kepemimpinannya, Keraton Surakarta terus menjadi pusat pelestarian budaya Jawa. PB XIII mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah dan seniman muda untuk menghidupkan kembali berbagai kegiatan kebudayaan, seperti karawitan, tari klasik, dan pementasan wayang.
Beliau juga berperan penting dalam membuka akses bagi masyarakat umum agar dapat mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan keraton melalui kegiatan wisata budaya dan edukasi.
Kanjeng Sinuhun Paku Buwono XIII dikenal luas sebagai figur yang bijaksana, sederhana, dan penuh dedikasi terhadap budaya Jawa. Banyak kalangan menyebut beliau sebagai penjaga nilai-nilai luhur dan simbol kelestarian tradisi di tengah arus modernisasi.
Kepergian PB XIII meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Keraton, masyarakat Solo, dan seluruh pecinta budaya Nusantara.