Butet Kartaredjasa Hadiahkan Lukisan Kaca “Jalan Salib” untuk Paus Leo XIV

Seniman Butet Kartaredjasa serahkan lukisan kaca "Jalan Salib" kepada Paus Leo XIV. Foto: Vatican Media

Butet Kartaredjasa Hadiahkan Lukisan Kaca “Jalan Salib” untuk Paus Leo XIV

Fajar Nugraha • 19 June 2026 14:52

Vatikan City: Tradisi dan spiritualitas kerap menemukan jalannya sendiri untuk bertemu dalam ruang keberagaman.

Sebuah mahakarya lukisan bertema "Jalan Salib" berbalut filosofi budaya Jawa berhasil menembus dinding Vatikan, membawa pesan universal yang menyentuh hati pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV.

Karya monumental ini lahir dari tangan dingin seorang Butet Kartaredjasa yang memadukan kedalaman spiritualitas Kristiani dengan kearifan lokal masyarakat Jawa: Tokoh Punokawan.

Inspirasi ini lahir dari keyakinan mendalam sang seniman terhadap kekuatan kultural Punokawan—Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam tradisi masyarakat Jawa, figur-figur ini bukan sekadar penghibur, melainkan representasi kedekatan, kebijaksanaan, dan penyampai petatah-petitih (pesan kebaikan) yang hidup di rumah-rumah dan kampung-kampung.

Nasihat luhur seperti Ojo Dumeh (jangan sombong), Eling Sangkan Paraning Dumadi (ingat asal dan tujuan hidup), hingga Mele Ngindong Lali senantiasa melekat dalam lukisan kaca kecil di kediaman masyarakat Jawa.

Melihat kedalaman nilai filsafat Jawa tersebut, Butet menangkap adanya kesamaan esensi dengan prosesi Jalan Salib. Sayangnya, tradisi Jalan Salib selama ini cenderung hanya dikenal oleh kalangan terbatas, khususnya umat Katolik.

"Pada pesan kebaikan itu, kalau disosialisasikan dengan tokoh-tokoh Punokawan yang sangat friendly (bersahabat) dengan masyarakat, itu mungkin lebih mengenal dan lebih gampang dipahami. Maka saya punya ide, pada tahun 2024 saya bikinlah Jalan Salib menggunakan tokoh Punokawan," ungkap sang seniman.

Dalam 14 stasi (perhentian) Jalan Salib tersebut, tokoh Semar yang merupakan titisan dewa diinterpretasikan untuk menggambarkan sosok Yesus. Sementara tokoh lainnya tampil dinamis; Petruk bisa berperan sebagai Pontius Pilatus, prajurit, atau figur lainnya di setiap frame.

Momen Surealistik di Vatikan dan Latar Belakang Multikultural

Pertemuan dengan Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus menjadi babak paling bersejarah sekaligus emosional bagi Butet dan istrinya. Menariknya, kisah di balik seniman ini justru mencerminkan indahnya pluralisme Indonesia.

Meskipun berstatus Kristen di KTP, Butet mengaku terakhir kali aktif ke gereja saat duduk di bangku SMP. Sang istri pun merupakan seorang Muslimah bergelar Hajah. Namun, kedekatan emosionalnya dengan tradisi Katolik tumbuh subur sejak masa kanak-kanak saat ia menimba ilmu di sekolah Pangudi Luhur, Yogyakarta. Idiom Jalan Salib bukanlah hal asing baginya.

Perjalanan menemui Paus digambarkannya sebagai situasi yang sangat surealistik dan penuh perjuangan, layaknya merefleksikan kesengsaraan Jalan Salib itu sendiri.

"Saya belum pernah mengalami perjuangan untuk mencium tangan Paus. Itu seperti Yesus, begitu sengsaranya. Dibakar matahari selama empat jam, menunggu bangun pagi. Dari malam saya sudah tidak bisa tidur membayangkan betapa rumitnya protokol di Basilika. Tapi saya lewati semua dengan ketabahan dan niat," tuturnya.

Perjuangan itu terbayar lunas. Tidak semua seniman mendapat kesempatan langka untuk bertatap muka langsung, mencium tangan, dan menerima berkat dari Paus.

Respons Hangat Paus Leo XIV

Saat prosesi penyerahan karya, sang pelukis menjelaskan bahwa lukisan tersebut merupakan tafsir bebas Jalan Salib yang dibalut kebudayaan Jawa, Indonesia. Mendengar hal tersebut, Paus Leo XIV memberikan respons yang sangat hangat.

"Oh, dia bilang 'Indonesia, good'. Beliau melihat karya itu dan sangat senang, sempat ada dialog tadi," ujarnya mengisahkan momen hangat tersebut.

Karya Jalan Salib versi Punokawan ini diperlakukan eksklusif sebagai karya grafis. Dari total 14 stasi dalam satu set, sang seniman hanya akan memproduksi terbatas sebanyak 200 cetakan (copy). Setiap sudut kiri karya akan diberi penomoran khusus, misalnya angka "3/200" yang menandakan cetakan ketiga.

Dari keseluruhan rangkaian, lukisan Stasi Nomor 9 dipilih secara khusus untuk diserahkan langsung kepada Paus Leo XIV. Pemilihan ini bukan tanpa alasan. Selain dipercaya sebagai angka mujur, Stasi Ke-9 menampilkan visualisasi yang sangat spesial.

"Kebetulan di dalam frame nomor 9 itu, tokoh Punokawannya keempat-empatnya ada semua. Jadi untuk menggambarkan sosok Punokawan itu komplit ada dalam satu frame," ungkap Butet.

Melalui kanvas budaya ini, sang seniman tidak hanya membawa identitas Indonesia ke panggung dunia, tetapi juga membuktikan bahwa pesan kemanusiaan dan kebaikan mampu melintasi sekat agama, budaya, dan bangsa.

(Fajar Nugraha)