Qatar coba lagi upaya negosiasi Iran-Amerika Serikat. Foto: Anadolu
Qatar Coba Hidupkan Kembali Diplomasi Iran-AS di Tengah Kebuntuan
Muhammad Reyhansyah • 28 August 2026 20:05
Doha: Qatar turun tangan menghidupkan kembali diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang terhenti, di tengah kebuntuan upaya mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Namun, pada saat yang sama, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington saat ini tidak sedang bernegosiasi dengan Tehran.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengunjungi Tehran pada Kamis, 27 Agustus 2026 dan bertemu dengan pejabat Iran, termasuk negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf.
Qatar mendorong kedua pihak kembali ke jalur diplomasi untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung selama enam bulan.
"Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami tidak ingin bertemu atau melakukan apa pun," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, dikutip dari Channel News Asia.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt juga mengatakan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dan kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran akan terus dilakukan hingga Tehran bersedia berunding secara serius.
Sementara itu, Iran menyampaikan sejumlah syarat sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan energi dunia.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan syarat tersebut mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pemberian kompensasi, dan pencabutan sanksi.
"Kami tidak mempercayai Amerika Serikat; mereka berulang kali mengkhianati diplomasi dan perundingan," kata Rezaei.
Rezaei juga memperingatkan Iran akan menyerang kepentingan militer dan ekonomi AS jika Washington melakukan tindakan yang disebutnya sebagai "kenakalan" terhadap Iran.
Dalam pertemuannya dengan pejabat Iran, Sheikh Mohammed turut menekankan pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Qatar juga membahas proposal pembentukan koridor pelayaran sementara Iran-Oman serta proyek bersama untuk membersihkan ranjau di jalur tersebut.
Kebuntuan mengenai masa depan Selat Hormuz menjadi salah satu penyebab runtuhnya nota kesepahaman Iran-AS pada Juni. Washington menuntut selat tersebut tetap terbuka sebagai jalur perairan internasional, sementara Tehran berupaya mempertahankan kendali atas lalu lintas kapal yang melintas.
Meski operasi tempur utama telah dihentikan selama beberapa pekan, belum ada kemajuan berarti menuju kesepakatan perdamaian yang lebih luas maupun pembukaan kembali Selat Hormuz.