Pertemuan bilateral antara Kemenperin dan Senator Federasi Rusia Ilyas Umakhanov di Jakarta. Foto: Biro Humas Kemenperin.
Kemenperin Lirik Teknologi Drone hingga Robotika Rusia
Andika Fauzan Azhari • 26 August 2026 18:41
Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperluas kerja sama industri dengan Rusia dari sekadar hubungan perdagangan menjadi investasi, alih teknologi, dan kemitraan industri. Langkah ini diwujudkan melalui penjajakan dan lokalisasi sejumlah teknologi Rusia yang relevan dengan kebutuhan dalam negeri.
Peluang alih teknologi tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Kemenperin dan Senator Federasi Rusia Ilyas Umakhanov di Jakarta. Fokus teknologi yang dilirik meliputi drone kebutuhan sipil, robotika bawah air, sistem komunikasi darurat mandiri, hingga pengolahan limbah.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pentingnya membangun hubungan industri yang lebih maju dan berdaya saing bersama Rusia.
"Kami ingin hubungan kedua negara tidak berhenti pada perdagangan, tetapi berkembang menjadi kerja sama investasi, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas industri yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara," kata Agus dalam keterangan tertulis, Rabu, 26 Agustus 2026.
Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy menambahkan kerja sama ini perlu bermuara pada nilai tambah bagi industri dalam negeri.
"Kerja sama Indonesia dan Rusia perlu diarahkan pada hal-hal yang menghasilkan manfaat nyata bagi industri, baik melalui investasi, alih teknologi, maupun kemitraan yang menghubungkan perusahaan kedua negara," ujar Tri.

(Ilustrasi teknologi drone. Foto: Denka)
Lirik teknologi drone hingga robotika
Sementara itu, Senator Federasi Rusia Ilyas Umakhanov menyoroti kesesuaian teknologi Rusia dengan karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
"Rusia memiliki teknologi drone untuk kebutuhan sipil, robotika bawah air yang sesuai dengan karakteristik Indonesia, sistem komunikasi mandiri untuk kondisi darurat, serta teknologi pengolahan limbah yang dapat menghasilkan sumber daya bermanfaat bagi pertanian dan peternakan," tutur Ilyas.
Adapun, penjajakan teknologi ini menjadi bagian dari penguatan hubungan industri bilateral setelah partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country pada ajang pameran industri terbesar Rusia, INNOPROM 2026, di Yekaterinburg.
Hasil dari ajang internasional tersebut, baik dalam skema Business-to-Business (B2B) maupun Government-to-Government (G2G), juga telah dilaporkan kepada Presiden RI. Pemerintah optimistis lokalisasi teknologi Rusia di Indonesia tidak hanya memperkuat kemampuan industri nasional, tetapi juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha domestik ke kawasan Eurasia.